gemericik banyu mematung
tertegun menyaksikan
sandiwara liar:
sang hawa
peranan hawa lagi
menghujat
mengoceh tak berjeda
lambat
sembari melayangkan bola
mata
pada sunyi yang pekat
"aku pernah berbisik
pada senyum manjamu
aku pernah merangkul hangat tatapanmu
aku juga pernah mencumbu lebih dalam embusan
napasmu
aku yang pernah menghabisi waktu dengan
iringan desah puasmu"
jeda tengah berjalan selangkah
mengantar hawa tuk menyeruak lebih tajam
seperti anjing jalang merajai malam
menggelepar gonggongan amarah
tubuhnya tersenggal mulai tercekik
perihnya lebih dari sekedar lara sayatan
tetesan getih jadi menghujan
terhuyung
jatuh hingga memekik
hawa yang kembali membeku
serupa patung batu
berlumut
hadap satu arah dan
terpaku
semakin buram oleh kabut
gemericik banyu terus
mematung
tertegun menghabiskan
torehan liar:
sang hawa
Yogyakarta, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar