secuil coretan

Minggu, 09 Februari 2014

Dua Puluh Hari

Tak pernah seperti ini kumerindu
Rindu napas dan hangat tubuhmu
Sungguh, kamu lelakiku.

                Sore yang gembira. Awan hitam mulai menyelimuti langit kota ini, membuatnya semakin redup, tapi aku tidak menjadi muram. Aku akan menemuimu, menepati janji berkenalan tempo lalu. Memang, senja sore ini tidak begitu cantik, langit tak bersemburat merah. Hanya ada gerimis lembut yang berkali-kali menyentuh wajahku yang bulat.

Hari ke-1
                Aku masih menatap ponselku ketika setelahnya kulihat seseorang melambaikan tangan tak jauh dari hadapanku.
                “Baiklah, mari lakukan.” kataku dalam hati. Kudekati sosok itu. Semakin dekat, lalu kenapa jantungku semakin kencang berdegup? Begitu kencang hingga tembok gang itu menertawakanku. Ah, ini sungguh membuatku malu.
                “Hentikan! Ini hanya pertemuan biasa.” tegasku dalam hati.
                Untuk apa aku gugup. Ini hanya perkenalan seperti yang sudah-sudah. Maaf, jika sebelumnya dua kali sudah kubatalkan pertemuan ini. Aku juga masih heran kenapa Tuhan mengundur jadwal berkenalan kita sampai dua kali. Oh, mungkin Tuhan sekedar memberi aba-aba, jika selanjutnya perkenalan ini akan banyak menguras tenaga dan emosi, maka Ia membiarkan kita untuk menata hati terlebih dahulu. Baiklah, aku turuti alur ceritaNya.
                Hanya dalam hitungan menit sepeda motor yang kukendarai berhenti di hadapanmu. Aku tercengang.
                “Ah, lelaki nakal.” kesan pertamaku untukmu. Bagaimana tidak? Kamu memakai kaos hitam dan celana panjang yang robek di beberapa sisi. Piercing-piercing yang terpasang di bibir mengalahkan kaca matamu yang elegan.
                “Lu basah,” itu ucapan pertama yang keluar dari mulutmu.
                “Oh, cuma kena gerimis kok,” balasku. Sebenarnya aku malu, sebab gerimis membuat penampilanku semakin buruk saja.
                “Kalau begitu ayo masuk,” ajakmu kemudian.
Manjaku muncul. Seenaknya aku memintamu untuk memarkirkan kendaraanku. Aduh, bodoh sekali.    “Maaf ya, belum apa-apa kamu udah jadi tukang parkir.” Ledekku untuk mencairkan suasana.
Kulihat kamu hanya tertawa.
                “Baik-baik ya di sini. Nanti aku ceritakan soal dia.” Kataku pada sepeda motor putihku. Ia hanya tersenyum, seakan tahu kalau aku akan mempunyai banyak kisah denganmu.
                Aku  berjalan mengikutimu masuk ke dalam rumah. Kamu terlihat menakutkan, tapi tunggu dulu, kamu juga sungguh manis. Ini kesan setelah melihatmu pertama kali. Sayangnya, aku tak pernah tahu bagaimana kesan pertamamu untukku, karena hingga sampai di akhir tak sempat kutanyakan hal itu. Yang aku tahu, waktu bertemu denganmu penampilanku terlewat biasa. Sama sekali tak kubuat menjadi lebih baik. Bodohnya aku. Mungkin seharusnya aku bersolek atau paling tidak menyisir rambut panjangku terlebih dahulu. Supaya selanjutnya, kamu bisa lebih tertarik dengan perkenalan kita.
                Tanpa pamit sore pergi digantikan oleh malam. Hanya gerimis yang masih bertahan. Saat gerimis mulai berlalu dan menyisakan udara sejuk. Kita sepakat untuk pergi jalan-jalan. Ah, sudah lama aku merindukan ini. Menikmati jalanan kota ini di malam hari dengan lelaki di dekatku. Meski bukan dengan kekasihku.
                Tak kusangka, begitu cepat kita menjadi dekat. Cinta pun sepertinya datang terburu-buru. Ia berlari, tanpa memberi salam terlebih dahulu. Menyelonong masuk saja di hatiku. Percayalah, aku sempat menolaknya, tapi sepertinya ia juga menolak untuk pergi. Baiklah, kubiarkan ia untuk tinggal di hatiku. Pikirku, jika bosan maka akan pergi pula dengan cepat. Secepat ia datang tadi.
                Senyumnya begitu renyah, pantas saja aku doyan mendengarkannya berbicara. Sebab, ketika dia berbicara, aku bisa puas melihat senyum yang menawan itu. Ah, obrolan kami memang singkat dan membuat kecanduan. Oh ya, sebelumnya aku tidak pernah tahu jika ia memiliki pita suara yang bagiku sempurna. Sempurna untuk membuat wanita jatuh hati. Mendengarnya bernyanyi, saat itulah aku jatuh cinta untuk kedua  kalinya, pada orang yang sama.  
                Malam yang gila! Aku tidak terlalu menyukai bagian ini. Kamu mengenalkan kebiasaanmu yang buruk. Yang kurasakan kemudian tubuhku serasa melayang, tetapi kepalaku semakin berat. Aku hanya ingin tidur. Hmm, aku tidak begitu yakin dengan apa yang terjadi kemudian, tetapi aku masih ingat bagaimana kamu memintaku untuk menjadi wanitamu. Aku juga tidak menyangka jika ucapan, ”Iya” meluncur begitu saja keluar dari mulutku. Dan ketika ingin kuluruskan ucapanmu itu, bibirku sudah beradu dengan bibirmu. Ciuman pertama kita, manis.   

Hari ke-2
                “Selamat pagi pacar baruku.” Kuucapkan itu pada hembusan napasku yang pertama ketika kubuka jendela kamarku. Oh sungguh indahnya pagi.
                Aku masih tersenyum riang sambil menghabiskan pagi di hari ini. Hingga kemudian senyumku hilang sewaktu kutahu kamu tak bisa datang menemuiku di hari ini.
                “Ah, mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.
                Pagi berjalan menjemput sore dan malam. Kita tak bertemu.

Hari ke-3
                “Sayang, hari ini kita bertemu kan?” Pertanyaanku di pagi hari ini.
                “Tentu, selesai pekerjaan ini aku datang sayang.” Balasmu dengan lembut.
                Aku berdendang setelah itu. Pergi mandi, membersihkan badan, menyisir rambut. Aku coba untuk menyepadupadankan pakaianku. Aku suka memakai rok, ini membuatku menjadi gadis yang lucu. Ah, menurutku sudah cantik. Tersenyum-senyum aku di depan cermin.
                Siang datang, tak ada kabar darimu.
                “Ah, mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.
                Sore datang.
                “Sayang, nanti malam aku baru bisa datang.” Itu kabar darimu.
                Baiklah, aku akan menunggu. Sore menjadi bertambah lama. Mungkin ini karena rindu. Rindu kepada pacar baru.
                Waktu berjalan sangat lambat, hingga malam akhirnya sampai.
                “Kamu tidak datang sayang? Ini sudah hampir pukul 12. Aku mengantuk.” isi pesanku untukmu.
Tak ada balasan.
                Pukul 1 dini hari. Kamu baru muncul. Mukamu kusam, tubuhmu sempoyongan. Hmm, kamu mabuk sayang.

Hari ke-4
                Sekarang kamu datang pukul 2 dini hari.
                “Sayang, kenapa setiap hari kamu harus mabuk. Tak bisakah aku bertemu kamu saat tubuhmu normal? Aku mulai lelah. “
                Pertanyaanku itu hanya kamu balas dengan ciuman. Aku ingat, malam ini aku berkata padamu jika besok aku akan pergi ke luar kota. Aku juga ingat kamu marah dan tak mengizinkan aku tuk pergi, tapi bagaimana lagi. Aku harus tetap pergi. Tiga hari memang menyebalkan dan menjadi waktu yang lama untuk menahan rindu untukmu.
                Aku terlelap dalam pelukmu.

Hari ke-5
                Aku sedikit membenci hari ini. Ketika aku tahu bahwa di hari ini juga kamu harus pergi dari rumah untuk sebuah pekerjaan di luar kota.
                Kita berada di stasiun berbeda, di waktu dan kota yang sama. Aku sempat bertanya, kenapa kita tidak menaiki kereta yang sama? Tapi sudahlah, mungkin memang kita harus terpisah supaya kita bisa melepas kepergiaan dengan semakin mudah.
                Malamnya aku bermimpi sungguh buruk.
                Di dalam mimpiku, kita berada dalam satu kereta yang sama. Duduk berhadap-hadapan. Aku heran kenapa di dalam mimpi kita tidak duduk berdampingan saja? Setelahnya, kulihat ada wanita yang sudah duduk di sampingmu. Ia tertidur lelap di bahu kananmu. Aku berada di depanmu, tapi matamu sepertinya tidak melihat tubuhku.
                Aku terbangun dan menangis.

Hari ke-6
                Deburan ombak terdengar semakin jelas di telingaku. Biasanya aku menjadi damai ketika berada di pantai seperti ini. Tetapi, tidak kali ini. Mimpi semalam begitu nyata.
                Kuhembuskan napasku seiring angin menghempas tubuhku, menerbangkan rambut hitamku. Angin sepertinya ingin menyadarkanku, bahwa aku tak boleh bersedih hati. Aku ingat apa yang dikatakan angin waktu itu. “Tenanglah, hanya mimpi. Kamu mencintainya bukan? Jadi percayalah. Ia juga akan menjaga hatinya untukmu.”
                 Baiklah, aku akan mengangkat wajahku dan mengundang kembali senyum di bibirku. Aku tak boleh melewatkan waktu. Akan kurasakan bagaimana rasanya kasmaran denganmu.
                Kuceritakan semua pada ayah dan bundaku. Bagaimana aku bertemu denganmu, bagaimana senyumanmu memabukkanku, dan bagaimana pelukmu bisa terasa sangat hangat. Ketahuilah, ayah dan bunda juga ingin berjumpa dengan lelaki yang telah membuatku jatuh cinta.
                Hari ini aku menghubungimu. Aku tak pernah melewatkan untuk mengirim pesan kepadamu. Menanyakan keadaan dan keberadaanmu.
Tetapi, tak ada balasan darimu.
                “Ah, mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.

Hari ke-7
                Hari Minggu yang jahanam.        
Pagi ini aku menunggu kabar. Tak ada yang datang. Aku bertanya-tanya. Apakah kamu sudah kembali ke kota ini? Atau kamu masih bertahan di kota itu.
                Aku ingin memberi kejutan padamu hari ini sayang. Aku akan kembali dan bertemu denganmu. Kamu pasti rindu bukan? Samakah rindu kita? Tak sabar rasanya merasakan hangat tubuhmu begitu kita bertemu nanti.
                Tuhan tidak begitu baik saat itu.
                “Sayang, aku harus pulang ke Borneo. Sebentar lagi pesawat take off.” Isi pesan darimu sore ini.
                “Apa! Aku hampir sampai dan kamu malah mau pergi?” balasku setengah berteriak.
Pesanku tidak berlanjut. Mungkin pesawat sudah terbang.
                Tak henti-hentinya aku bertanya. Kenapa kamu dengan mudah pergi jauh tanpa sebelumnya memberitahukanku. Kenapa? Apakah kamu tidak merasakan rindu untukku? Oh, sayang kenapa sampai hati kamu pergi tanpa bertemu dahulu denganku.
                Malam ini aku menangis sampai tertidur.

Hari ke-8
                Tak sengaja aku membaca obrolanmu dengan seorang wanita di akun media sosial. Jantungku berdetak kencang, tubuhku lemas, aku sempoyongan. Ya Tuhan, apa lagi ini. Aku tak bisa berpikir benar saat ini. Otakku membeku. Aku melawan, kucoba artikan satu persatu kalimat percakapan kalian. Hingga aku terduduk lemas. Aku tahu, seharian ini kalian bersama. Tidur bersama.
                Sudah kutanyakan padamu, siapa wanita itu. Aku senang karena kamu mencoba membuat alasan tentang wanita itu. Meski sebenarnya aku tahu semuanya. Pertanyaan tentang siapa dia, sudah kutemukan jawabannya. Aku tak lagi bisa percaya ucapanmu. Kupilih untuk menutup sakit hatiku saat itu. Aku lebih memilih bahagia denganmu. Aku lebih memilih mengucapkan seribu rindu padamu dari pada berdebat soal wanita peliharaanmu yang lain.
                Bajingan! tiba-tiba di hadapanku muncul wanita itu bersamamu. Dia melumat bibirmu, dia merasakan hangatnya pelukmu, dia menyentuh tubuhmu. Cukup! Aku berteriak hingga merobek ilusi itu. Napasku terengah, syukurlah, nuraniku masih mampu mengajakku untuk tenang. Tak sedikit pun kusentuh wanitamu  itu.
                Hari yang sungguh buruk. Aku terlelap.

Hari ke-9
                Kamu malas-malasan mendengarkan ocehan dariku tentang rindu buatmu. Mungkin kamu terlalu lelah. Baiklah, aku mengerti.
Aku menangis dan terlelap.

Hari ke-10
                Kamu tak membalas pesan atau pun teleponku.
Aku rindu.

Hari ke-11
                Kamu menghilang.
Aku semakin rindu.

Hari ke-12
                “Sayang, aku rindu. Kamu balas pesanku bisa?” kukirim pesan padamu.
                “Ya, aku juga.” Balasmu. Hanya itu

Hari ke-13
                “Sayang, temani aku tidur malam ini.” Aku memohon padamu.
                “Aku belum tahu kapan kembali lagi.” Balasmu. Hanya itu.

Hari ke-14
                Rinduku tak tertahan. Bahkan kamu sendiri tak mampu mengobatinya. Aku kebingungan. Setengah gila.
                Malam ini sedih mengantarkan tubuhku untuk tidur. Di dalam mimpi kulihat kamu kembali ke kota ini. Aku tersenyum menyambutmu, tetapi kamu bersama seorang wanita. Wajahnya sama dengan yang kutemui di kereta dalam mimpi sebelumnya.
                Aku tidur sambil terisak penuh sesak.

Hari ke-15
                Kamu kembali ke kota ini. Sayangnya, bukan aku yang menyambut kedatanganmu. Lagi-lagi wanita yang wajahnya sama di mimpi-mimpiku kemarin. Tetapi, ini nyata bukan mimpi.
                Aku marah, aku cemburu dengan wanita itu. Kamu bahkan tak memberi tahu jika akan kembali hari ini. Benciku tiba-tiba hilang saat aku ingat jika aku bisa memelukmu lagi.
                Aku menunggu malam ini, tetapi kamu tidak datang.
Aku tetap bersabar.

Hari ke-16
                Pukul 2 dini hari.
                Kamu menemuiku dengan tubuh setengah sadar. Kamu mabuk lagi, tapi aku bahagia bisa bersamamu malam ini. Rinduku terlalu berat untuk kutanggung sendiri. Sempat aku mengajak berbicara menyoal wanitamu yang lain. Jawabanmu sungguh membuatku bahagia. Aku ingat, katamu kamu mencintaiku, katamu dia bukan siapa-siapa, dan katamu aku akan menjadi kekasihmu yang tercinta.
                Oh cinta, sungguh aku menyayangimu. Kita tertidur dalam pelukan.

Hari ke-17
                Aku tidak penah mengerti kenapa hari ini berlalu dengan begitu kejam. Malam ini tubuhmu seperti dirasuki setan. Tak tahu dari mana kamu dapatkan rasa benci. Padahal pagi hingga siang hari kita masih dihujani kemesraan seperti pengantin baru. Aku meringis dianggap sebagai wanita murahan. Kamu melontarkan puluhan kata-kata kasar. Kamu menuduh jika aku telah bermain dengan lelaki lain. Tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku sedih luar biasa.
                Malam ini dingin menusuk tulang-tulangku. Aku merangkak ke jalanan. Kulihat arlojiku. Hampir pukul 2 dini hari. Aku harus bertemu denganmu. Meluruskan hal yang konyol ini. Ketahuilah aku tak pernah mau berpisah denganmu.
                “Aku di jalan sayang. Sebentar lagi sampai.” Kukirimkan banyak pesan untuk menenangkanmu.
                Udara malam ini begitu hitam dan menyesakkan. Hampir tak bisa kupandang wajahmu yang tampan. Tubuhmu dipenuhi lumut-lumut abu-abu. Aku mencoba menggapaimu tanganmu, berusaha meraih tubuhmu. Tak berhasil.
                Setan kemudian masuk ke tubuhku, sepertinya ia tak mau jika kita berbicara secara wajar. Aku juga sama sekali tak mengerti kenapa tanganku bisa mendarat di wajahmu dengan keras. Maafkan aku, tapi sungguh aku tak bisa menghentikan marahku.  

Hari ke-18
                Aku tidak tidur. Mataku sembab, merah, tak ada air mata. Ingin sekali menangis, tapi tak bisa. Entahlah, aku masih bernapas, tapi tubuhku seperti mati.
                Aku tak percaya kamu memperlakukanku kejam seperti itu. Perihnya pipiku setelah tanganmu menghajarnya menambah pedih hatiku kala itu. Katamu itu balasan untukku. Baiklah, aku mengerti. Dan aku tak pernah menyalahkanmu.
                Angin subuh menjadi saksi, bagaimana waktu itu aku benar-benar ingin memelukmu dan mengatakan, “Sayang, ini kesalahan. Tak seharusnya kita bertengkar hebat seperti ini. Aku mencintaimu.”

Hari ke-19
                Katamu kita berpisah, tapi sungguh hatiku menolak. Aku kekasihmu dan tak mau pergi dari hatimu. Mungkin puluhan pesan dariku membuat ponselmu jengkel. Aku mengerti kamu tak mau melihat wajahku lagi. Tapi, aku rindu. Benar-benar rindu. Untuk itulah aku pergi menunggumu di rumah. Kamu tak pulang.
                Aku memohon pertemuan denganmu kepada Tuhan. Dan Dia mengabulkannya. Aku bahagia, bisa melihatmu tersenyum lagi. Aku bahagia bisa mencium bibirmu lagi.

Hari ke-20
                Aku tak pernah berharap ini menjadi hari terakhir untuk kita. Sejak semalam aku menunggu kedatanganmu. Ingin sekali malam ini kamu temani tidurku. Tahukah kamu, seisi kamar ini menertawakanku. Mereka mengejekku, mencemoohku, mereka bilang padaku jika kekasihku tak akan pernah datang.
                 “Untuk apa lelaki seperti dia ditunggu? Dia tak akan pernah datang. Dia tidak mencintaimu. Tidurlah dan berhenti menunggunya.” Itu kalimat yang keluar dari mulut mereka.
                Aku tak mempercayai ucapan mereka. Aku yakin sekali jika malam ini kamu akan datang.
                “Dia sudah janji akan datang. Jadi, diamlah kalian!” bentakku pada mereka.
                “Baiklah, namun jika kami benar bahwa dia tak akan datang. Pergilah untuk meninggalkannya.” balas mereka kemudian.
                Aku tak mampu melontarkan kalimat lagi. Aku hanya bisa terduduk lemas di pojok ruangan ini. Menatap arlojiku. Waktu berlenggang begitu saja. Sepi, tanpa ada udara yang bergerak sedikit pun. Tak hal yang memberikan tanda jika kamu akan datang.
                Menjelang pagi. Tubuhku semakin lemas. Kamu tidak pernah datang lagi.
...
                Kuketahui setelahnya, kamu telah beristri. Dan wanita yang aku cemburui selama ini, dia sama saja denganku.

...
                Aku tak pernah mengerti kenapa dua puluh hari ini terjadi. Aku tak pernah mengerti kenapa Tuhan mengizinkanku menemuimu. Aku tak pernah mengerti kenapa cinta datang bersamamu. Dan aku tak pernah mengerti kenapa cinta tak kau bawa pergi kembali.  

Aku mulai membenci hari
ketika tak kudapat kau berada di dekatku
Aku mulai membenci hari
ketika rindu semakin bertambah tebal di hatiku
Dan aku semakin membenci hari
ketika waktu membuatku semakin mencintaimu

Jogja, 9 Februari 2014




               
               
               
               



Kamis, 23 Mei 2013

Hai, Apa Kabar Kamu?

Hai, malam ini cerah ya? Awan terlihat bergumpal-gumpal putih bersih di langit. Lihat juga mereka! Ya! Bintang-bintang banyak sekali. Benarkan? betapa sempurnanya.

Hai, apa kabar kamu? Ingin sekali aku mendengar sendiri jika kamu baik-baik saja.

Aku ingat, ketika aku dan kamu menyusuri beberapa jalan di kota Jogja. Yah, kita. Aku sampai hapal dengan suara mesin motor bebekmu itu. Sekedar mencari kesejukan malam.

Aku ingat, saat kita masih saling tersenyum ketika bertemu mata, apalagi jika tanganmu mulai mengelus kepalaku. Ah, aku ingat dengan jelas.

Aku ingat, waktu kita saling beradu lapar dan berujung makan bersama di pinggir jalan Solo. Yah, aku tau kalau penjual ikan itu tak akan memberi kita potongan harga, walau sudah menawar sampai meringis. Ikan laut yang malang, sudah kita habisi dan lezat sekali.

Aku ingat, sering sekali kita kosong dan hanya mampir duduk di pinggir jalan. Melihat puluhan mobil lewat, melihat bapak-bapak penjual lampu led, terkena debu jalan. Ah, pohon itu. Pohon di pinggir jalan dan bangku bambu di bawahnya. Mereka pasti merindukan kita.

Aku ingat, tiba-tiba kamu muncul di hadapanku tanpa memberi kabar dahulu. Lalu, yah, kamu pergi begitu saja setelah melihatku. Katamu hanya kangen. Itu lucu.

Aku ingat, penjual bunga itu. Ah, romantisnya, indah benar bunga mawar itu. Benar indahkan?

Aku ingat, aku ingat semuanya. Jelas sekali, tak ada yang terlewat secuil pun.

Lukaku? Ah, aku tiba-tiba lupa itu.

Aku lupa ada wanita datang mendekatimu.

Aku lupa ada wanita yang meminta ruang di hatimu.

Aku lupa rupa wanita yang tersenyum sumringah bersamamu di foto itu.

Aku lupa jika kamu dan wanita itu juga pergi bersama menikmati malam di kota Jogja ini.

Aku lupa jika kalian bahagia bersama.

Aku lupa, kamu bersamanya sekarang.

Aku  lupa jika aku tak bersamamu lagi.

Aku hanya lupa.

Atau aku justru ingat?

Ah, apa kabarmu sekarang?

Minggu, 10 Februari 2013

Kepada Sepi


Saat kesepian mulai nyata menyusup di sekitar kepalaku, kenapa justru semakin jelas saja suara berisik. Yah, aku mengakuinya, batinku yang tak henti-hentinya mengumbar obrolan. Ini sama seperti sekelompok ibu-ibu tua dengan gelang emas berderet di tangan yang saling melempar basa-basi basi selama acara arisan berlangsung.

Wajar jika aku benci dengan sepi. Sepi membuat semua kenangan semakin jelas, semakin nyata berjalan berderet di hadapanku. Terkadang aku mencoba untuk menyibak bagian dari banyak baris kenangan yang berjalan pelan di depanku, tapi tak pernah berhasil. Kasihan, sungguh kasian.

Bagaimana dengan gelap? Sama saja! Ia sama kurangajarnya. Gelap menambah gambaran kenangan semakin dan semakin nyata. Untuk itulah aku memasang lampu yang terang di kamarku ini. Yah, harapanku semoga gambaran kenangan itu bisa sedikit kabur sebab kalah oleh cahaya lampu. Kalau lampu ini bisa di pasang di dalam otakku, mungkin aku akan memasang puluhan lampu, menyilaukan kenangan sampai tak bisa terlihat lagi.
Lucunya, sehebat apapun aku mengusir sepi, sehebat itu pula sepi melabuh di otakku.

Bencilah kepada sepi jika ia
tak hentinya mencemooh
menambah berisik ilusi terhadap
kenangan
Bencilah kepada sepi jika ia
justru menyuarakan yang ingin
ditinggalkan oleh hati
Bencilah kepada sepi jika ia
hanya bisa membuat hati
semakin tergerus rindu


Itu sajakku, sajakku buat kamu, sepi.

8 Februari 2013


Minggu, 04 November 2012

Untuk yang Kemudian Pergi



Aku tak pernah sekalipun.
Aku tak pernah sekalipun menyalahkan kedatangan birahimu itu.
Aku tak pernah sekalipun mengusir kehadiran naluri busukmu itu.
Sungguh tak pernah sekalipun aku berkata, “Takkan lagi engkau merayuku sayang.”

            Mataku kosong, tetapi masih saja kupandangi gambarmu dalam ilusiku sendiri. Ah, pikiranku mulai rumit, ratusan bahkan ribuan kenangan muncul, berhamburan, dan tak dapat terhubung dengan benar sama sekali. Yah, itu yang berhamburan banyak sekali muncul bentukan wajahmu yang rupawan, wajahmu yang seperti lebah di tengah hamparan ribuan bunga mawar.
            Pagi yang malang. Aku diam dan jantungku sepertinya memang baru saja dilempari pisau tajam yang menancap persis di tengah-tengahnya. Kemudian aku hanya merasakan perih. Pipiku kemudian panas oleh aliran air yang turun dari mata, mungkin bisa menjelaskan bahwa pagi ini aku benar-benar sedang menangis. Bagaimana mungkin aku tidak berduka atas apa yang telah terjadi untuk peristiwa sekarang.
            Tubuhku menjadi sedikit basah oleh keringat, kulirik kipas angin dengan jeruji penutupnya yang sudah berkarat masih setia menyapukan angin untukku. Lalu kutarik selimut tebal untuk menutupi badanku. Pacarku masih tertidur dengan pulasnya di sampingku. Kukecup keningnya untuk yang kesekian ratus kali. Matanya terbuka dan membalas kecupanku dengan cium yang begitu manis di bibirku, sebelum ia tertidur kembali.
            Aku berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhku dengan air. Meski hanya guyuran air dari bak yang dasarnya sudah menghitam oleh kerak membandel, rasa segarnya sama dengan air yang terjun dari tebing di pegunungan. Mataku tetap saja merah dengan cucuran cairan bening yang tak kunjung berhenti mengalir, sepertinya ini mau mengalahkan derasnya air guyuran dari gayung yang kusiramkan di atas kepalaku.
            Entah, sudah berapa kali aku menyiramkan air ke kepalaku, aku pikir ini bisa membuatku lupa tentang bayang-bayangmu. Aku pikir guyuran air ini bisa membawa sosokmu ikut hanyut jatuh ke lantai kamar mandi ini. Lelah sudah rasanya mengenali wajahmu yang begitu tampan di mataku. Tak sanggup lagi rasanya, mengingat hangatnya ciuman dari bibirmu.
            Di dalam kamar mandi inilah kumuntahkan segala kotoran di otakku. Bayanganmu memang seperti kerak di bak mandi ini yang begitu sulit untuk dibuang. Kenapa selalu muncul. Kenapa muncul di setiap kencanku dengan lelaki lain. Sungguh ini begitu mengganggu, aku muak. Sungguh muak.
            Kejadian waktu itu cukup membuatku setengah gila. Di saat aku menumpahkan segudang harapan indah tuk hidup bersamamu, undangan pernikahanmu sampai di tanganku. Pecah sudah hatiku dan tak ada lagi tempat untuk cintaku ini.
            Berhari-hari kucoba untuk beranjak dari ribuan kenangan busuk kita. Aku kencan dengan beberapa lelaki gila, mereka mengaku mencintaiku. Namun, jelas kutahu mereka hanya ingin mengecup buah dadaku.
            Sudah hampir setengah jam berlalu, aku masih saja berdiam di kamar mandi kecil ini. Hingga jelas kudengar lantai kamar mandi ini menertawakanku.
            “Hahaha..mau apa sekarang? Apa kau akan tetap berada di kamar mandi yang busuk ini? Aku sudah bosan melihat kemaluanmu yang telanjang itu. Aku bosan melihat tubuhmu yang tak lagi berbentuk indah itu. Pergilah segera dari sini. Jika kau tidak pergi, bak mandi itu pun akan segera mencemoohmu. Aku tahu sekali bagaimana bodohnya kau sekarang. Kau begitu bodoh menangisi kepergian kekasihmu itu. Tolol sekali. Dari dulu aku sudah sering memintamu untuk segera tinggalkan. Setiap malam kau dengan lelaki kebanggaanmu itu mandi dan bergulat di dalam kamar mandi ini. Meski kau tertawa bahagia, tapi aku tahu. Lelakimu itu sama busuknya dengan kerak hitam itu. Ia hanya mau menjebol tubuhmu. Bodohnya kau itu. Bodoh!”
            Aku diam, aku malu dan entahlah, aku sama sekali tidak mengerti mengapa ini begitu sulit, perasanku terlalu kuat. Pipiku kini semakin panas saja, sepertinya air mataku telah berubah menjadi air panas yang baru saja mendidih sehabis dimasak. Kini aku hanya bisa menangis tanpa tau kapan akan berakhir.
            Tak lama aku mendengar suara langkah kaki menuju kamar mandi ini. Segera kukeringkan air dari tubuhku dan air mata ini, aku hapus dengan kedua tanganku saja.
            “Cinta..apa yang kamu lakukan di dalam sana. Keluarlah, aku ingin mencium bibirmu.” Itu suara kekasih baruku. Memang, kekasih baruku itu begitu baik padaku dan tidak tahu mengapa, aku sedikit menyayanginya sekarang. Meskipun bayangan lelaki lamaku masih terlalu sering hadir di waktu bercintaku.
            Kubuka pintu kamar mandi dan langsung memeluk tubuh kekasihku itu. Dalam dekapannya, aku berjanji pada hatiku sendiri untuk segera melupakan tentang yang lalu dan memberikan seluruh sisa bahagiaku untuknya.
***
            Kamu adalah lelaki yang paling banyak mendapatkan tempat di hatiku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Kamu lelaki yang paling banyak mendapatkan senyum tulusku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Kamu lelaki yang paling banyak merasakan hangat tubuhku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Aku tak bisa, sungguh sulit untuk kembali merangkak dari mimpi ke dalam nyataku.
            Dulu mungkin iya, benar, aku yang selalu mengundangmu untuk datang. Setiap sore dengan angin yang mengibas lembut panjang rambutku, dengan awan yang semburat merah, aku berdoa, meminta kepada Tuhan untuk segera datangkan kamu. Datangkan seseorang yang bisa dijadikan alasanku untuk menangis di pundaknya. Datangkan seseorang yang bisa kupameri senyum manis dari bibir merahku. Datangkan seseorang yang tubuhnya bebas kupeluk ketika aku terancam oleh kenyataan. Namun, sekarang aku tak ingin lagi. Kamu telah miliki wanita lain. Aku tak akan memintamu untuk datang kembali. Tak lagi kupinta kamu tuk temani tidurku malam ini.
           
Oktober 2012
            

Ilusi yang kemudian Buyar


            Uh, kamarku terlihat seperti cakaran binatang dan entahlah, lama-lama menjadi busuk juga! Jelas menjadi seperti ini, ketika tak satupun di kamar ini yang mau mengajakku berbicara lagi. Padahal sebelumnya, masing-masing bagian kamar ini berebut ngajak ngobrol denganku, mungkin mereka lelah, atau aku yang memang terlalu kuat mengisap batang rokok sialan ini hingga aku tak menghiraukan obrolan mereka. Iya benar, tadi juga aku merasa lelah sekali. Aku lelah menikmati cumbuanmu sayang. Sepenggal cumbuan yang terasa pahit, amat pahit.
            Oh, aku lupa. Satu jam lalu kamu baru pergi ya? kamu, iya benar kamu. Kamu lelakiku yang begitu kusayang. Kamu pergi? Uh, apa itu semacam lelucon. Aku diam, bola mataku kemudian tertuju pada jam dinding yang sedari tadi masih setia mengalunkan suara detikannya dengan lembut. Ini sudah hampir tengah malam, tapi jari-jariku masih belum puas juga mengapit berbatang-batang tembakau wangi.
            Aku kembali teringat, ketika kamu berkata, “Setelah ini aku pulang.” Ah, itu ucapan terakhir yang kudengar keluar dari mulutmu dan bagaimana bisa itu muncul di tengah-tengah permainan kita yang belum usai? Apa yang ada di otakmu sebenarnya. Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.
            “Setelah ini aku tak akan mengurusmu ataupun gadis itu lagi.” Yah, aku ingat lagi. Kamu mengucapkan kalimat itu sebelumnya. Apa kamu tahu yang terjadi sesudahnya? Kamu pasti melihat bagaimana setan menari-nari di sekitarku. Mendorongku untuk segera menghantammu dengan kepalan rasa benci yang begitu keras di tanganku, tapi apa yang terjadi? Hatiku yang bodoh malah melonglong terus-terusan untuk acuhkan omongan busukmu itu. Jiwaku yang dengan sekuat-kuatnya menahan tubuhku untuk diam, hanya diam.
            Lalu, apa benar tidak sedikit pun kamu menyadari bahwa warna kulitku sudah semerah darah manusia saat itu? Saat suhu tubuhku memuncak hingga kulitku yang begitu putih berubah menjadi merah menahan marah, itu adalah teriakkanku bodoh! Mereka berteriak seakan ingin mencabik-cabik mulut sialanmu itu. Apa yang kamu ingat kini? Ini mereka, mereka yang setiap malam kamu belai, mereka yang selalu kamu siram dengan hembusan napasmu yang hangat. Ingatkah!
            Hahaha, jelas kamu tidak ingat lagi. Bagaimana tidak, kamu lebih memilih pergi dengan gadis yang sekarang kutahu telah menjadi kekasih barumu itu. Ah, aku juga tahu jika sekarang kalian menjadi bangsa binatang. Apa itu sejenis itik? Atau yang lainnya! Aku di sini melihat betapa angkuh kalian melenggang santai di depanku. Itu sama saja seperti angsa yang begitu tinggi mengangkat lehernya ketika berjalan. Aduh, aku lupa itu nama binatang untuk panggilan “sayang” kalian ya?
            Ini baru dua jam setelah kamu pergi. Kini kamarku yang telah membusuk pun ikut menanyakan kedatanganmu kembali. Sungguh luar biasa, kamarku ini sepertinya juga sudah jatuh hati kepadamu lelakiku. Aku diam, tak kujawab pertanyaan mereka. Tiga jam setelah kepergianmu, kulitku yang kemudian menjadi rewel. Mereka mencemaskanku untuk kehangatan yang mungkin tak lagi bisa kudapat darimu. Aku hanya diam, mungkin lebih tepatnya berpura-pura diam.
            Benar, mataku memang kering tanpa ada setetes pun air mata yang turun. Aku tahu mereka begitu karena sudah tidak mau lagi menemani hati yang terpotong-potong ini. Menjijikan memang, jika mereka repot-repot menangisi kamu.
            Hariku selanjutnya biasa saja. Bibirku tetap tersenyum dengan cantiknya, pita suaraku pun tetap terjaga, dan tertawaku masih lantang. Seperti itulah hiasan setiap detik di hidupku. Hingga malam ini datang, rindu terdahsyat mengetuk jendela kamarku. Ketika aku bersikeras untuk tidak menghiraukannya, mereka justru terlihat masuk melenggang menembus daun jendela. Aduh, yang benar saja! Harusnya aku melapisi daun jendela sialan itu dengan baja, agar mereka tidak bisa menembusnya. 
            Lupakan soal jendela, kini yang menjadi masalahku adalah rindu itu dengan seenak jidatnya sendiri meresap ke rongga jantungku. Mereka kemudian menyatu dengan hatiku dan akibatnya aku sendiri yang rasanya tercekik mau mati. Sepertinya apapun yang telah kulakukan untuk menolak rindu ini telah gagal dengan sempurna.
            Terus saja mereka dengan bringas mengacau di otakku. Memberikan ilusi tentangmu. Aku melihatnya, melihat tanganmu yang membelai mesra pipiku, melihat bibirmu yang kemudian begitu manis beradu dengan bibirku. Melihat tubuhmu yang merengkuh jiwaku dan banyak sekali mereka menggambar di hadapanku. Kutarik selimut yang ada di sampingku untuk menutup kepalaku rapat-rapat. Aku berharap menutup kepala dengan selimut mampu menghadang semua gambaran tentangmu agar tidak terlihat, atau kalau bisa ilusi tentangmu lenyap dari hadapanku.
            Sial! Sungguh sial! Gambaran mereka tentangmu justru semakin jelas saja. Betapa berengseknya mereka menggambarkan kamu, aku, dan permainan kita yang penuh gairah dan gurih rasanya. Aku mulai mual melihatnya lagi. Kepalaku kini seperti mau menyala saja, hmm..sebentar lagi pecah berantakan mungkin.
            Saat tidak bisa dibendung ya sudah, aku ikuti saja keinginan mereka. Yah, rinduku itu ingin melihat wajahmu wahai lelakiku. Kuladeni mereka dengan senyum ketir. Ada handphone di dekatku, tanpa basa-basi kutekan tombol-tombol hitam yang bertuliskan abjad yang ada. Ketika jadi sebentuk namamu kuarahkan segera tuk mencari apa yang ada di akun sosialmu. Mungkin dengan melihat fotomu, mungkin tulisanmu, atau mungkin obrolanmu dengan teman-temanmu bisa membuat mereka puas saat itu.
            Apa yang terjadi, ketika ternyata yang terpampang di depan mataku adalah isi kemesraanmu dengan kekasihmu yang baru. Hahaha...mampuslah mereka! Matilah segala pasukan rinduku. Buyarlah yang ada di otakku saat itu. 
            Bagaimana mungkin, kau mengingkari omonganmu dahulu itu dan jika itu sebuah sumpah serapah, maka alam akan mendengarnya dengan jelas. Ketika alam menyimak perkataanmu dahulu yang dengan begitu liar berhasil membinasakan perasaanku, sekarang kau ingkari dengan gampangnya. Apakah itu semacam mengunyah muntahan sendiri dari mulutmu. Sungguh menjijikan!
            Itu kamu lelakiku yang begitu aku cintai. Mungkin saat ini kamu sedang memadu kasih dengan  gadis sialan itu. Aku diam di sini sekarang, diam dengan satu juta penyesalanku. Aku yang diam dan kasihan kepadamu. Ah, bukan! Aku kasihan dengan tubuhmu itu. Aku kasihan jika tubuhmu harus kedinginan di setiap malam, karena kutahu tubuh gadis itu takkan bisa sehangat pelukanku.
            Tahukah kamu, ketika aku bercerita pada langit-langit di kamar ini tentang kamu, tentang kisah kita. Mereka dengan geram menjawab, “Tenanglah wanitaku, dunia tak akan lagi menolong lelakimu itu yang telah sengaja menelantarkan perasaanmu itu. Sungguh alam pun akan segera membalasnya. Apa perlu aku meminta alam untuk segera menenggelamkannnya di lautan sana? Atau kau ingin aku meminta alam tuk menjatuhkannya dari atas jembatan?”
            Tentu saja tidak. Aku tak pernah menginginkan begitu. Kulit di tubuhnya tergores sedikit pun tak ingin aku melihatnya. Aku ini hanya ingin melihatnya berbahagia. Yah, walaupun bahagianya bukan denganku, tak apalah. Penting bagiku tuk selalu tahu harinya selalu berhias senyum.
            Ah! Apa yang telah kupikirkan. Sungguh munafik otakku ini. Tidak mungkin! Rupaku yang sebenarnya jelas menginginkan kamu tuk cepat mati. Kau tahu dengan jelas hatiku ini sudah penuh dengan cacing-cacing gendut yang begitu lahap mencabik-cabik bagiannya.
            Oh, sungguh tak bisa. Aku begitu merindukanmu. Meski sekarang kamu telah berada di atas gadis lain, pintaku, aku ingin tidur denganmu malam ini. Aku ingin memeluk tubuhmu hingga esok pagi datang. 
            Tengah malam ini, mataku masih terbuka, kosong, bibirku masih mengisap sebatang rokok, dan kamarku kini gelap oleh asapnya.

“Kau memang setan alas nggak punya perasaan..”
-Iwan Fals-

Oktober 2012