secuil coretan

Minggu, 29 April 2012

Sajak Maret untuk BBM



mulai bosan menyapa pagi hari
wajar saja jika tadi sebelum teriakan ayam jago dimulai, kabut abu berbisik pula padaku, ''aku sungguh muak dengan senyum manis matahari''
 benar, aku pun sama, bosan dengan celoteh paginya sekarang,
 bisakah kau tetap terjaga di sni kabut?sembunyikan matahari untuk satu hari ini saja, aku benar bosan rengekan manusia-manusia fana itu,
benar bosan, hingga ingusku pun meronta tuk bebas dari hidungku,
 sebab tak bisa lagi kucium wangi tradisi tentram seperti dulu,
kini yang ada setiap pagi gonggongan anjing galak menyalak lepas, bosan dengan pagi.

Yogyakarta,  2012

Tiduri Ibu Pertiwi



bagaimana mungkin awan hitam merangkak pergi?sedang hujan belum sempat meniduri ibu pertiwi...

Yogyakarta, 2012

Hujatan Hujan




Ketika aku mengingat dan mencoba merangkai sosok dunia yg sebenarnya, hanyalah fana yang kudapat. Sadarkah hujan tak selalu meneteskan air dan merintihkan desahan angin? Terkadang hujan mampu menumpahkan butiran abu lembut dan menorehkan kabut pekat. Jika kudapati itu semua, maka wajah ini akan tertunduk lemas, hingga telinga ini menjadi perih. Semua ocehan hujan, terbaca menghujat, mengoyak, dan membinasakan helaan napas semua makhluk.

Yogyakarta,  2012

Gemericik Banyu


gemericik banyu mematung
tertegun menyaksikan sandiwara liar:
        sang hawa
peranan hawa lagi menghujat
mengoceh tak berjeda lambat
sembari melayangkan bola mata
pada sunyi yang pekat

"aku pernah berbisik pada senyum manjamu
 aku pernah merangkul hangat tatapanmu
 aku juga pernah mencumbu lebih dalam embusan napasmu
 aku yang pernah menghabisi waktu dengan iringan desah puasmu"

 jeda tengah berjalan selangkah
 mengantar hawa tuk menyeruak lebih tajam
 seperti anjing jalang merajai malam
 menggelepar gonggongan amarah

 tubuhnya tersenggal mulai tercekik
 perihnya lebih dari sekedar lara sayatan
 tetesan getih jadi menghujan
 terhuyung  jatuh hingga memekik

hawa yang kembali membeku
serupa patung batu berlumut
hadap satu arah dan terpaku
semakin buram oleh kabut

gemericik banyu terus mematung
tertegun menghabiskan torehan liar:
        sang hawa

Yogyakarta,  2012

setubuh gerimis



kembali bersetubuh dengan gerimis
tak seotak pun bisa menepis
cucuran banyu menusuk lebih lekat
mendekap hembusan napas pekat

angin yang kemudian bicara pada tetesan bening
lantang bersuara tuk cepat menyingkir
mencerca menolak birahi jasad yang mungkir
tanpa henti merajuk tak bercelah hening

jika sudah muak dengan ocehan bayu
tusukkan sadis semakin mengena
merobek setiap pori milik jasad
tembus dasar hingga menggeliat kaku

gerimis yang terus berselimut denganku
merajuk manja hirup wangi intimku
gerimis yang terus menindihku
buat erang engah napasku

saat puncak euforia
teriakan payah tak lagi bernyawa
terhanyut oleh rintih desahan
selingkung dengan surgawi Tuhan
Yogyakarta, 2012

tuan mabuk


         mabuk kepala hamba
lihat kemeja merah  itu dengan dasi lurik melilit di lehernya
buat pusing bola mata
lihat juga jas hitam mahal itu tanpa satu pun ketombe yang terlihat
nongkrong di pundaknya
            kepalanya bersih tiap hari dicuci pake shampo jadi wangi
            tak seperti aku manusia tanpa kantong di baju
            rambut tak dicuci shampo pun tak terbeli
lihat kemeja merah, berdasi, dengan jas hitam berjoged ke kanan ke kiri
membisik telinga polos merajuk kayak setan lagi mabuk
            mana ada yang tak terima
            uang logam dari emas
            yakin yang tergoda tersenyum lebar sambil berkata,”Pilih budak yang tuan suka”
mengembang tawa membahak, “Aku pilih kaum itu, gampang aku bodohi dan bobol dompetnya”
            inilah balada tuan mabuk
Yogyakarta,  2011

cerita gerbong tua


gerbong tua kereta ekonomi
mulai merangkak pelan
ngelus rel sepanjang sawah
dua wanita bergincu merah mulai berbincang
            celotehnya:
                        soal rakyat tani
                        tanah kering kerontang
                        nasib yang jelek
ah, mereka semangat sekali
berangan membenahi rusaknya negeri agung ini
sama semangatnya
dengan tikus-tikus yang
memakan habis tanaman padi
di kantor tinggi
Purworejo,  2011

memilih iblis


menyentak kaki para wayang
lenggok pinggul mereka sungguh bangkitkan birahi
ada yang lain
mereka yang aneh suka mengundang ghoib
mereka yang aneh ngumpul bercumbu dengan setan
angin ngembus terpa tubuh bangkitkan gairah
membawa jawaban
manusia rakyat itu lebih memilih berbaur dengan iblis
dari pada duduk mengoceh di gedung agung punya negara

Yogyakarta,  2011

Luluh Lantah


angan telah terpecah belah
seiring muncul senja bergaris merah
dan peluh menetes lelah
sungguh sayang, hidupnya telah luluh lantah

Yogyakarta,  2011

kehilangan


sesekali dapat dirasa rindu yang mencekam di kalbuku
sepertinya kata-kata lembut terus saja berjalan mengetuk pintu di luar sana
kala itu gerimis turun merambat di tanganmu juga tanganku
kali ini yang terjadi bertolak belakang dengan yang dahulu tercipta
sama sekali tak bisa kuhirup aroma jahe hangat lewat peluh tubuhmu
yang dirasa kini adalah panas mencekik nyawa

Yogyakarta,  2011

hewan?kerbau?kau?


lihat di sini nurani tak lagi menemani
coba tatap kembali
jiwa menjadi rusak sekali

hey, siapa mau menemani?
hey, siapa mau perbaiki?

ah omong kosong!
mereka hanya pikir soal kantong
ah omong kosong!
semua hanya berita bohong

kawan,
terus sajalah keluar tangis
mereka itu bengis

lihat rumah roboh
sakupun tak dirogoh

dengar nyanyian perut nyaring
hanya keluar senyum garing

hewan apakah kau?
seolah jadi suatu yang silau
hewan apakah kau?
ternyata memang kerbau

Yogyakarta,  2011

Hentikan Tuan



tabir jadi gelap
oleh sentuhan kabut sehabis hujan
lalu coba sibak remang hitam itu
yang kau lihat
raut itu datang lagi 

merasuk tembus dasar hati
jadi dingin saraf ini Tuan
gemetar jiwa pun menyerbu kembali 

cepat hentikan
kalau tidak hati pasti mati merindu

Yogyakarta,  2011

Di Dalam Kereta


Bising raduan roda besi 
mengantar alam melenggang

sayup ocehan penumpang terbahak 
membisik gendang hati

tak ada yang memikat
hanya damai dalam hati
entah senang entah kekang


ini di dalam kereta
kereta dalam perjalanan pulang
pulang ke asal kehidupan...

Kutoarjo,  2011

Angin Waru


daun waru tersibak  angin fajar
tebarkan suara desah ranting kecil

daun waru tersibak  angin fajar
terbangkan sehelai koyakan lusuh

getar daun waru tersibak angin fajar
hembusan  udara segala tanya

getar daun waru tersibak  angin fajar
hati yang bergeming  saksikan engah napas waru

daun kecil pohon waru
terhempas angin syahdu
bertahan meski dengan bisu

Kebumen,  2011

kataku pada angin malam


angin malam, dengarkan jerit lara yang bodoh ini 
segera rangkul dan cepat menyingkirlah 
ganti ini dengan kabut pekat 
tanpa ruang tanpa batas 
bicaralah padanya tuk tetap tinggal 
sebab aku selalu merindunya 
senapas setubuh dengan pekat kabut 
tanpa perlu jadi pemilik

Yogyakarta, 2012