sore tadi kubongkar kertas usang dari tumpukannya yang
hampir terbuang
ada satu yang menarik!
sebuah kertas dengan warna putih, tapi mataku salah
itu merah jambu yang benar pudar
mataku beranjak cepat melihat tulisan model ceker ayamku
ada tiga kata berjejer manis yang menatapku manja
“sajak buat Angga”
ah, aku baru ingat!
satu sajak janjiku padanya
maaf sayang, aku
terlambat menuliskannya
harusnya sajak manis sudah aku lontarkan di masa yang lalu
tapi tak apalah, aku takut dosa jika tak kutepati
dan ini sajakku yang
terlambat untukmu...
kemarin satu sosok datang
mengetuk jendela kamarku
dan kemudian aku dengar ocehan
benar, aku masih ingat apa yang dilontarkan
“masa lalu! masa lalu!”
tubuhku yang kemudian meronta
kuat tuk lepas
berlari sengit tuk cepat mencumbunya
aku yang kemudian dengan bringas
mengacak-acak tiap bagiannya
aku yang kemudian menemukan
satu sosok lain tepat di pusaran lalunya
hal hina apa yang telah
mematri lalunya jadi abadi
jelas aku lebih buas dari
lalunya
masuk telah dan lebih dalam
menggerogotinya
tapi nyata, lalunya tak
kunjung beranjak sedari tadi
masih saja gema berisik
ketukan di jendela
sekarang siulan gairah dari
mulutnya kudengar
mengajakku kembali bergumul manja
mencipta rasa tuk acuhkan
segala
Yogyakarta,
27 Mei 2012
