secuil coretan

Minggu, 10 Februari 2013

Kepada Sepi


Saat kesepian mulai nyata menyusup di sekitar kepalaku, kenapa justru semakin jelas saja suara berisik. Yah, aku mengakuinya, batinku yang tak henti-hentinya mengumbar obrolan. Ini sama seperti sekelompok ibu-ibu tua dengan gelang emas berderet di tangan yang saling melempar basa-basi basi selama acara arisan berlangsung.

Wajar jika aku benci dengan sepi. Sepi membuat semua kenangan semakin jelas, semakin nyata berjalan berderet di hadapanku. Terkadang aku mencoba untuk menyibak bagian dari banyak baris kenangan yang berjalan pelan di depanku, tapi tak pernah berhasil. Kasihan, sungguh kasian.

Bagaimana dengan gelap? Sama saja! Ia sama kurangajarnya. Gelap menambah gambaran kenangan semakin dan semakin nyata. Untuk itulah aku memasang lampu yang terang di kamarku ini. Yah, harapanku semoga gambaran kenangan itu bisa sedikit kabur sebab kalah oleh cahaya lampu. Kalau lampu ini bisa di pasang di dalam otakku, mungkin aku akan memasang puluhan lampu, menyilaukan kenangan sampai tak bisa terlihat lagi.
Lucunya, sehebat apapun aku mengusir sepi, sehebat itu pula sepi melabuh di otakku.

Bencilah kepada sepi jika ia
tak hentinya mencemooh
menambah berisik ilusi terhadap
kenangan
Bencilah kepada sepi jika ia
justru menyuarakan yang ingin
ditinggalkan oleh hati
Bencilah kepada sepi jika ia
hanya bisa membuat hati
semakin tergerus rindu


Itu sajakku, sajakku buat kamu, sepi.

8 Februari 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar