Aku tak pernah sekalipun.
Aku tak pernah sekalipun menyalahkan
kedatangan birahimu itu.
Aku tak pernah sekalipun mengusir
kehadiran naluri busukmu itu.
Sungguh tak pernah sekalipun aku berkata,
“Takkan lagi engkau merayuku sayang.”
Mataku kosong, tetapi masih saja
kupandangi gambarmu dalam ilusiku sendiri. Ah, pikiranku mulai rumit, ratusan
bahkan ribuan kenangan muncul, berhamburan, dan tak dapat terhubung dengan
benar sama sekali. Yah, itu yang berhamburan banyak sekali muncul bentukan
wajahmu yang rupawan, wajahmu yang seperti lebah di tengah hamparan ribuan
bunga mawar.
Pagi yang malang. Aku diam dan
jantungku sepertinya memang baru saja dilempari pisau tajam yang menancap
persis di tengah-tengahnya. Kemudian aku hanya merasakan perih. Pipiku kemudian
panas oleh aliran air yang turun dari mata, mungkin bisa menjelaskan bahwa pagi
ini aku benar-benar sedang menangis. Bagaimana mungkin aku tidak berduka atas
apa yang telah terjadi untuk peristiwa sekarang.
Tubuhku menjadi sedikit basah oleh
keringat, kulirik kipas angin dengan jeruji penutupnya yang sudah berkarat
masih setia menyapukan angin untukku. Lalu kutarik selimut tebal untuk menutupi
badanku. Pacarku masih tertidur dengan pulasnya di sampingku. Kukecup keningnya
untuk yang kesekian ratus kali. Matanya terbuka dan membalas kecupanku dengan
cium yang begitu manis di bibirku, sebelum ia tertidur kembali.
Aku berjalan menuju kamar mandi untuk
membasuh tubuhku dengan air. Meski hanya guyuran air dari bak yang dasarnya sudah
menghitam oleh kerak membandel, rasa segarnya sama dengan air yang terjun dari
tebing di pegunungan. Mataku tetap saja merah dengan cucuran cairan bening yang
tak kunjung berhenti mengalir, sepertinya ini mau mengalahkan derasnya air
guyuran dari gayung yang kusiramkan di atas kepalaku.
Entah, sudah berapa kali aku
menyiramkan air ke kepalaku, aku pikir ini bisa membuatku lupa tentang
bayang-bayangmu. Aku pikir guyuran air ini bisa membawa sosokmu ikut hanyut
jatuh ke lantai kamar mandi ini. Lelah sudah rasanya mengenali wajahmu yang
begitu tampan di mataku. Tak sanggup lagi rasanya, mengingat hangatnya ciuman
dari bibirmu.
Di dalam kamar mandi inilah
kumuntahkan segala kotoran di otakku. Bayanganmu memang seperti kerak di bak
mandi ini yang begitu sulit untuk dibuang. Kenapa selalu muncul. Kenapa muncul
di setiap kencanku dengan lelaki lain. Sungguh ini begitu mengganggu, aku muak.
Sungguh muak.
Kejadian waktu itu cukup membuatku
setengah gila. Di saat aku menumpahkan segudang harapan indah tuk hidup
bersamamu, undangan pernikahanmu sampai di tanganku. Pecah sudah hatiku dan tak
ada lagi tempat untuk cintaku ini.
Berhari-hari kucoba untuk beranjak
dari ribuan kenangan busuk kita. Aku kencan dengan beberapa lelaki gila, mereka
mengaku mencintaiku. Namun, jelas kutahu mereka hanya ingin mengecup buah
dadaku.
Sudah hampir setengah jam berlalu,
aku masih saja berdiam di kamar mandi kecil ini. Hingga jelas kudengar lantai
kamar mandi ini menertawakanku.
“Hahaha..mau apa sekarang? Apa kau
akan tetap berada di kamar mandi yang busuk ini? Aku sudah bosan melihat
kemaluanmu yang telanjang itu. Aku bosan melihat tubuhmu yang tak lagi
berbentuk indah itu. Pergilah segera dari sini. Jika kau tidak pergi, bak mandi
itu pun akan segera mencemoohmu. Aku tahu sekali bagaimana bodohnya kau
sekarang. Kau begitu bodoh menangisi kepergian kekasihmu itu. Tolol sekali.
Dari dulu aku sudah sering memintamu untuk segera tinggalkan. Setiap malam kau
dengan lelaki kebanggaanmu itu mandi dan bergulat di dalam kamar mandi ini.
Meski kau tertawa bahagia, tapi aku tahu. Lelakimu itu sama busuknya dengan
kerak hitam itu. Ia hanya mau menjebol tubuhmu. Bodohnya kau itu. Bodoh!”
Aku diam, aku malu dan entahlah, aku
sama sekali tidak mengerti mengapa ini begitu sulit, perasanku terlalu kuat.
Pipiku kini semakin panas saja, sepertinya air mataku telah berubah menjadi air
panas yang baru saja mendidih sehabis dimasak. Kini aku hanya bisa menangis
tanpa tau kapan akan berakhir.
Tak lama aku mendengar suara langkah
kaki menuju kamar mandi ini. Segera kukeringkan air dari tubuhku dan air mata
ini, aku hapus dengan kedua tanganku saja.
“Cinta..apa yang kamu lakukan di
dalam sana. Keluarlah, aku ingin mencium bibirmu.” Itu suara kekasih baruku.
Memang, kekasih baruku itu begitu baik padaku dan tidak tahu mengapa, aku
sedikit menyayanginya sekarang. Meskipun bayangan lelaki lamaku masih terlalu
sering hadir di waktu bercintaku.
Kubuka pintu kamar mandi dan
langsung memeluk tubuh kekasihku itu. Dalam dekapannya, aku berjanji pada hatiku
sendiri untuk segera melupakan tentang yang lalu dan memberikan seluruh sisa
bahagiaku untuknya.
***
Kamu adalah lelaki yang paling
banyak mendapatkan tempat di hatiku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Kamu
lelaki yang paling banyak mendapatkan senyum tulusku dibandingkan beberapa
laki-laki lain. Kamu lelaki yang paling banyak merasakan hangat tubuhku
dibandingkan beberapa laki-laki lain. Aku tak bisa, sungguh sulit untuk kembali
merangkak dari mimpi ke dalam nyataku.
Dulu mungkin iya, benar, aku yang
selalu mengundangmu untuk datang. Setiap sore dengan angin yang mengibas lembut
panjang rambutku, dengan awan yang semburat merah, aku berdoa, meminta kepada
Tuhan untuk segera datangkan kamu. Datangkan seseorang yang bisa dijadikan
alasanku untuk menangis di pundaknya. Datangkan seseorang yang bisa kupameri
senyum manis dari bibir merahku. Datangkan seseorang yang tubuhnya bebas
kupeluk ketika aku terancam oleh kenyataan. Namun, sekarang aku tak ingin lagi.
Kamu telah miliki wanita lain. Aku tak akan memintamu untuk datang kembali. Tak
lagi kupinta kamu tuk temani tidurku malam ini.
Oktober 2012

.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
