secuil coretan

Minggu, 04 November 2012

Untuk yang Kemudian Pergi



Aku tak pernah sekalipun.
Aku tak pernah sekalipun menyalahkan kedatangan birahimu itu.
Aku tak pernah sekalipun mengusir kehadiran naluri busukmu itu.
Sungguh tak pernah sekalipun aku berkata, “Takkan lagi engkau merayuku sayang.”

            Mataku kosong, tetapi masih saja kupandangi gambarmu dalam ilusiku sendiri. Ah, pikiranku mulai rumit, ratusan bahkan ribuan kenangan muncul, berhamburan, dan tak dapat terhubung dengan benar sama sekali. Yah, itu yang berhamburan banyak sekali muncul bentukan wajahmu yang rupawan, wajahmu yang seperti lebah di tengah hamparan ribuan bunga mawar.
            Pagi yang malang. Aku diam dan jantungku sepertinya memang baru saja dilempari pisau tajam yang menancap persis di tengah-tengahnya. Kemudian aku hanya merasakan perih. Pipiku kemudian panas oleh aliran air yang turun dari mata, mungkin bisa menjelaskan bahwa pagi ini aku benar-benar sedang menangis. Bagaimana mungkin aku tidak berduka atas apa yang telah terjadi untuk peristiwa sekarang.
            Tubuhku menjadi sedikit basah oleh keringat, kulirik kipas angin dengan jeruji penutupnya yang sudah berkarat masih setia menyapukan angin untukku. Lalu kutarik selimut tebal untuk menutupi badanku. Pacarku masih tertidur dengan pulasnya di sampingku. Kukecup keningnya untuk yang kesekian ratus kali. Matanya terbuka dan membalas kecupanku dengan cium yang begitu manis di bibirku, sebelum ia tertidur kembali.
            Aku berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhku dengan air. Meski hanya guyuran air dari bak yang dasarnya sudah menghitam oleh kerak membandel, rasa segarnya sama dengan air yang terjun dari tebing di pegunungan. Mataku tetap saja merah dengan cucuran cairan bening yang tak kunjung berhenti mengalir, sepertinya ini mau mengalahkan derasnya air guyuran dari gayung yang kusiramkan di atas kepalaku.
            Entah, sudah berapa kali aku menyiramkan air ke kepalaku, aku pikir ini bisa membuatku lupa tentang bayang-bayangmu. Aku pikir guyuran air ini bisa membawa sosokmu ikut hanyut jatuh ke lantai kamar mandi ini. Lelah sudah rasanya mengenali wajahmu yang begitu tampan di mataku. Tak sanggup lagi rasanya, mengingat hangatnya ciuman dari bibirmu.
            Di dalam kamar mandi inilah kumuntahkan segala kotoran di otakku. Bayanganmu memang seperti kerak di bak mandi ini yang begitu sulit untuk dibuang. Kenapa selalu muncul. Kenapa muncul di setiap kencanku dengan lelaki lain. Sungguh ini begitu mengganggu, aku muak. Sungguh muak.
            Kejadian waktu itu cukup membuatku setengah gila. Di saat aku menumpahkan segudang harapan indah tuk hidup bersamamu, undangan pernikahanmu sampai di tanganku. Pecah sudah hatiku dan tak ada lagi tempat untuk cintaku ini.
            Berhari-hari kucoba untuk beranjak dari ribuan kenangan busuk kita. Aku kencan dengan beberapa lelaki gila, mereka mengaku mencintaiku. Namun, jelas kutahu mereka hanya ingin mengecup buah dadaku.
            Sudah hampir setengah jam berlalu, aku masih saja berdiam di kamar mandi kecil ini. Hingga jelas kudengar lantai kamar mandi ini menertawakanku.
            “Hahaha..mau apa sekarang? Apa kau akan tetap berada di kamar mandi yang busuk ini? Aku sudah bosan melihat kemaluanmu yang telanjang itu. Aku bosan melihat tubuhmu yang tak lagi berbentuk indah itu. Pergilah segera dari sini. Jika kau tidak pergi, bak mandi itu pun akan segera mencemoohmu. Aku tahu sekali bagaimana bodohnya kau sekarang. Kau begitu bodoh menangisi kepergian kekasihmu itu. Tolol sekali. Dari dulu aku sudah sering memintamu untuk segera tinggalkan. Setiap malam kau dengan lelaki kebanggaanmu itu mandi dan bergulat di dalam kamar mandi ini. Meski kau tertawa bahagia, tapi aku tahu. Lelakimu itu sama busuknya dengan kerak hitam itu. Ia hanya mau menjebol tubuhmu. Bodohnya kau itu. Bodoh!”
            Aku diam, aku malu dan entahlah, aku sama sekali tidak mengerti mengapa ini begitu sulit, perasanku terlalu kuat. Pipiku kini semakin panas saja, sepertinya air mataku telah berubah menjadi air panas yang baru saja mendidih sehabis dimasak. Kini aku hanya bisa menangis tanpa tau kapan akan berakhir.
            Tak lama aku mendengar suara langkah kaki menuju kamar mandi ini. Segera kukeringkan air dari tubuhku dan air mata ini, aku hapus dengan kedua tanganku saja.
            “Cinta..apa yang kamu lakukan di dalam sana. Keluarlah, aku ingin mencium bibirmu.” Itu suara kekasih baruku. Memang, kekasih baruku itu begitu baik padaku dan tidak tahu mengapa, aku sedikit menyayanginya sekarang. Meskipun bayangan lelaki lamaku masih terlalu sering hadir di waktu bercintaku.
            Kubuka pintu kamar mandi dan langsung memeluk tubuh kekasihku itu. Dalam dekapannya, aku berjanji pada hatiku sendiri untuk segera melupakan tentang yang lalu dan memberikan seluruh sisa bahagiaku untuknya.
***
            Kamu adalah lelaki yang paling banyak mendapatkan tempat di hatiku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Kamu lelaki yang paling banyak mendapatkan senyum tulusku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Kamu lelaki yang paling banyak merasakan hangat tubuhku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Aku tak bisa, sungguh sulit untuk kembali merangkak dari mimpi ke dalam nyataku.
            Dulu mungkin iya, benar, aku yang selalu mengundangmu untuk datang. Setiap sore dengan angin yang mengibas lembut panjang rambutku, dengan awan yang semburat merah, aku berdoa, meminta kepada Tuhan untuk segera datangkan kamu. Datangkan seseorang yang bisa dijadikan alasanku untuk menangis di pundaknya. Datangkan seseorang yang bisa kupameri senyum manis dari bibir merahku. Datangkan seseorang yang tubuhnya bebas kupeluk ketika aku terancam oleh kenyataan. Namun, sekarang aku tak ingin lagi. Kamu telah miliki wanita lain. Aku tak akan memintamu untuk datang kembali. Tak lagi kupinta kamu tuk temani tidurku malam ini.
           
Oktober 2012
            

Ilusi yang kemudian Buyar


            Uh, kamarku terlihat seperti cakaran binatang dan entahlah, lama-lama menjadi busuk juga! Jelas menjadi seperti ini, ketika tak satupun di kamar ini yang mau mengajakku berbicara lagi. Padahal sebelumnya, masing-masing bagian kamar ini berebut ngajak ngobrol denganku, mungkin mereka lelah, atau aku yang memang terlalu kuat mengisap batang rokok sialan ini hingga aku tak menghiraukan obrolan mereka. Iya benar, tadi juga aku merasa lelah sekali. Aku lelah menikmati cumbuanmu sayang. Sepenggal cumbuan yang terasa pahit, amat pahit.
            Oh, aku lupa. Satu jam lalu kamu baru pergi ya? kamu, iya benar kamu. Kamu lelakiku yang begitu kusayang. Kamu pergi? Uh, apa itu semacam lelucon. Aku diam, bola mataku kemudian tertuju pada jam dinding yang sedari tadi masih setia mengalunkan suara detikannya dengan lembut. Ini sudah hampir tengah malam, tapi jari-jariku masih belum puas juga mengapit berbatang-batang tembakau wangi.
            Aku kembali teringat, ketika kamu berkata, “Setelah ini aku pulang.” Ah, itu ucapan terakhir yang kudengar keluar dari mulutmu dan bagaimana bisa itu muncul di tengah-tengah permainan kita yang belum usai? Apa yang ada di otakmu sebenarnya. Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.
            “Setelah ini aku tak akan mengurusmu ataupun gadis itu lagi.” Yah, aku ingat lagi. Kamu mengucapkan kalimat itu sebelumnya. Apa kamu tahu yang terjadi sesudahnya? Kamu pasti melihat bagaimana setan menari-nari di sekitarku. Mendorongku untuk segera menghantammu dengan kepalan rasa benci yang begitu keras di tanganku, tapi apa yang terjadi? Hatiku yang bodoh malah melonglong terus-terusan untuk acuhkan omongan busukmu itu. Jiwaku yang dengan sekuat-kuatnya menahan tubuhku untuk diam, hanya diam.
            Lalu, apa benar tidak sedikit pun kamu menyadari bahwa warna kulitku sudah semerah darah manusia saat itu? Saat suhu tubuhku memuncak hingga kulitku yang begitu putih berubah menjadi merah menahan marah, itu adalah teriakkanku bodoh! Mereka berteriak seakan ingin mencabik-cabik mulut sialanmu itu. Apa yang kamu ingat kini? Ini mereka, mereka yang setiap malam kamu belai, mereka yang selalu kamu siram dengan hembusan napasmu yang hangat. Ingatkah!
            Hahaha, jelas kamu tidak ingat lagi. Bagaimana tidak, kamu lebih memilih pergi dengan gadis yang sekarang kutahu telah menjadi kekasih barumu itu. Ah, aku juga tahu jika sekarang kalian menjadi bangsa binatang. Apa itu sejenis itik? Atau yang lainnya! Aku di sini melihat betapa angkuh kalian melenggang santai di depanku. Itu sama saja seperti angsa yang begitu tinggi mengangkat lehernya ketika berjalan. Aduh, aku lupa itu nama binatang untuk panggilan “sayang” kalian ya?
            Ini baru dua jam setelah kamu pergi. Kini kamarku yang telah membusuk pun ikut menanyakan kedatanganmu kembali. Sungguh luar biasa, kamarku ini sepertinya juga sudah jatuh hati kepadamu lelakiku. Aku diam, tak kujawab pertanyaan mereka. Tiga jam setelah kepergianmu, kulitku yang kemudian menjadi rewel. Mereka mencemaskanku untuk kehangatan yang mungkin tak lagi bisa kudapat darimu. Aku hanya diam, mungkin lebih tepatnya berpura-pura diam.
            Benar, mataku memang kering tanpa ada setetes pun air mata yang turun. Aku tahu mereka begitu karena sudah tidak mau lagi menemani hati yang terpotong-potong ini. Menjijikan memang, jika mereka repot-repot menangisi kamu.
            Hariku selanjutnya biasa saja. Bibirku tetap tersenyum dengan cantiknya, pita suaraku pun tetap terjaga, dan tertawaku masih lantang. Seperti itulah hiasan setiap detik di hidupku. Hingga malam ini datang, rindu terdahsyat mengetuk jendela kamarku. Ketika aku bersikeras untuk tidak menghiraukannya, mereka justru terlihat masuk melenggang menembus daun jendela. Aduh, yang benar saja! Harusnya aku melapisi daun jendela sialan itu dengan baja, agar mereka tidak bisa menembusnya. 
            Lupakan soal jendela, kini yang menjadi masalahku adalah rindu itu dengan seenak jidatnya sendiri meresap ke rongga jantungku. Mereka kemudian menyatu dengan hatiku dan akibatnya aku sendiri yang rasanya tercekik mau mati. Sepertinya apapun yang telah kulakukan untuk menolak rindu ini telah gagal dengan sempurna.
            Terus saja mereka dengan bringas mengacau di otakku. Memberikan ilusi tentangmu. Aku melihatnya, melihat tanganmu yang membelai mesra pipiku, melihat bibirmu yang kemudian begitu manis beradu dengan bibirku. Melihat tubuhmu yang merengkuh jiwaku dan banyak sekali mereka menggambar di hadapanku. Kutarik selimut yang ada di sampingku untuk menutup kepalaku rapat-rapat. Aku berharap menutup kepala dengan selimut mampu menghadang semua gambaran tentangmu agar tidak terlihat, atau kalau bisa ilusi tentangmu lenyap dari hadapanku.
            Sial! Sungguh sial! Gambaran mereka tentangmu justru semakin jelas saja. Betapa berengseknya mereka menggambarkan kamu, aku, dan permainan kita yang penuh gairah dan gurih rasanya. Aku mulai mual melihatnya lagi. Kepalaku kini seperti mau menyala saja, hmm..sebentar lagi pecah berantakan mungkin.
            Saat tidak bisa dibendung ya sudah, aku ikuti saja keinginan mereka. Yah, rinduku itu ingin melihat wajahmu wahai lelakiku. Kuladeni mereka dengan senyum ketir. Ada handphone di dekatku, tanpa basa-basi kutekan tombol-tombol hitam yang bertuliskan abjad yang ada. Ketika jadi sebentuk namamu kuarahkan segera tuk mencari apa yang ada di akun sosialmu. Mungkin dengan melihat fotomu, mungkin tulisanmu, atau mungkin obrolanmu dengan teman-temanmu bisa membuat mereka puas saat itu.
            Apa yang terjadi, ketika ternyata yang terpampang di depan mataku adalah isi kemesraanmu dengan kekasihmu yang baru. Hahaha...mampuslah mereka! Matilah segala pasukan rinduku. Buyarlah yang ada di otakku saat itu. 
            Bagaimana mungkin, kau mengingkari omonganmu dahulu itu dan jika itu sebuah sumpah serapah, maka alam akan mendengarnya dengan jelas. Ketika alam menyimak perkataanmu dahulu yang dengan begitu liar berhasil membinasakan perasaanku, sekarang kau ingkari dengan gampangnya. Apakah itu semacam mengunyah muntahan sendiri dari mulutmu. Sungguh menjijikan!
            Itu kamu lelakiku yang begitu aku cintai. Mungkin saat ini kamu sedang memadu kasih dengan  gadis sialan itu. Aku diam di sini sekarang, diam dengan satu juta penyesalanku. Aku yang diam dan kasihan kepadamu. Ah, bukan! Aku kasihan dengan tubuhmu itu. Aku kasihan jika tubuhmu harus kedinginan di setiap malam, karena kutahu tubuh gadis itu takkan bisa sehangat pelukanku.
            Tahukah kamu, ketika aku bercerita pada langit-langit di kamar ini tentang kamu, tentang kisah kita. Mereka dengan geram menjawab, “Tenanglah wanitaku, dunia tak akan lagi menolong lelakimu itu yang telah sengaja menelantarkan perasaanmu itu. Sungguh alam pun akan segera membalasnya. Apa perlu aku meminta alam untuk segera menenggelamkannnya di lautan sana? Atau kau ingin aku meminta alam tuk menjatuhkannya dari atas jembatan?”
            Tentu saja tidak. Aku tak pernah menginginkan begitu. Kulit di tubuhnya tergores sedikit pun tak ingin aku melihatnya. Aku ini hanya ingin melihatnya berbahagia. Yah, walaupun bahagianya bukan denganku, tak apalah. Penting bagiku tuk selalu tahu harinya selalu berhias senyum.
            Ah! Apa yang telah kupikirkan. Sungguh munafik otakku ini. Tidak mungkin! Rupaku yang sebenarnya jelas menginginkan kamu tuk cepat mati. Kau tahu dengan jelas hatiku ini sudah penuh dengan cacing-cacing gendut yang begitu lahap mencabik-cabik bagiannya.
            Oh, sungguh tak bisa. Aku begitu merindukanmu. Meski sekarang kamu telah berada di atas gadis lain, pintaku, aku ingin tidur denganmu malam ini. Aku ingin memeluk tubuhmu hingga esok pagi datang. 
            Tengah malam ini, mataku masih terbuka, kosong, bibirku masih mengisap sebatang rokok, dan kamarku kini gelap oleh asapnya.

“Kau memang setan alas nggak punya perasaan..”
-Iwan Fals-

Oktober 2012
             

Rabu, 17 Oktober 2012

:)

bagaimana bisa aku membencimu dengan hati yang mendidih karena cinta? 

bagaimana bisa aku tak tersenyum mengingat wajahmu dalam ilusiku sendiri? 

bagaimana bisa aku meneteskan air mata untuk jahatmu, sedang bahagiaku denganmu lebih besar? 

Tak lagi sayang, aku menyalahkanmu, sebab kutahu pasti, pria tak mungkin hidup dengan satu hati sampai suatu hari nanti kita benar-benar berpasangan mengalahkan merpati.

Selasa, 19 Juni 2012

Kasur



Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api
                              aku lupa rasa dingin dari es
                                           lupa rasa perih dari sayatan pisau...
Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu
                                       aku ingat rasa lembut usapan tanganmu
                                               ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu...

            Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik.
            Lungkrah, kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku. Aku muak, kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. Yah, aku yang salah. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk.      
            Sekali lagi kukatakan, “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam, tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku.
            Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur, “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!”
            Aku menghela napas. Yah, memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Tapi, siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku, dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku.
            Tenanglah teman, tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. Aku selalu saja lupa dengan itu, yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan.
            Memang belakangan ini, kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku.
            Asalkan kamu mengerti, aku pun sama denganmu kasur. Satu yang masih aku minta, ya tidur dengan Tian, bekas pacarku. Kasur terdiam, kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku.
            “Lalu kenapa, kenapa sekarang kamu beralih, kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian, pacarmu dulu!”
            “Hahaha...,” aku tertawa.
            Ah, omong kosong untuk kembali memeluknya. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya?
            Aku hanya terdiam, tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. Aku kembali ingat, baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. Meski masih banyak retak di sana-sini.
            Asap rokok masih mengepul tebal, menari-nari di sekeliling kepalaku. Aku terbatuk. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. Padahal, aku masih benar senang dengannya. Aku masih senang dicumbu, masih senang dirayu, dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku.
            Imajinasiku melayang, menciumi lehernya, memeluk erat tubuhnya, tersenyum aku padanya, kemudian kabur...
            Kuhisap lagi batang rokokku. Hampir habis, ah masih perih rasanya. Sebenarnya, apa lagi yang kurang? Aku cantik, menarik, dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Sexi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya, itu aku.
            Kuceritakan kembali padamu kasur, “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. Kamu tentu tahu sendiri. Bisa sampai lima, bahkan sepuluh, dibuatnya aku terbang ke surga. Tapi bukan itu. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. Kamu tentu tidak tahu, kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. Kamu tidak pernah tahu, sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu.”
            Diam. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Hal yang kulakukan bersamanya biasa, seperti pasangan pada umumnya. Makan malam bersama, pergi nonton, bercanda, tertawa, dan tentu tidur.
            Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya, menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. Aku benar-benar jatuh hati padanya.
            Sejak itu aku yang putuskan sendiri, ingin tetap bersamanya. Aku yang putuskan, setiap malam harus tidur dengannya. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya, bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. Bedanya, aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya.
            Tentu, itu kukatakan padanya. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Aku ingat, dia mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Sejak saat itulah, dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. Di atas kasur ini.
            Sampai akhirnya, aku menemukan dia. Menumpuk lekat di atas dada wanita. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. Aku hanya bisa diam saat itu.
            Diam bukan berarti tidak bergerak. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. Apa ini sampah? Busuk? Bacin!
            Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. Entah, dia mengejarku atau tidak, yang aku tahu, langit roboh saat itu juga.
            Malamnya, aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain.
            Kubuka dengan paksa kamar Endo. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Sama, yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati.
            “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku.
            Aku ingat, waktu itu wajah Endo sedikit terkejut, tapi dia diam dan setelahnya, kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh.
            “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku.
            Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah, “Tian busuk!”
            Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya.
            “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian, meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu.” Ucapku tegas.
            Kasur semakin terdiam. Dia tahu benar apa yang sedang berkecambuk di dalam hatiku. Dia tahu dengan jelas semuanya. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini, juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian.
            Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku, bermain hingga klimaks, kemudian hilang begitu saja.
            Aku yang sekarang, menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. Aku yang sekarang, setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. Tanpa rasa yang awet.

Baris Busuk
kepada: Tian

Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara
Nyata rasanya,mencekik urat leher
Sama rasanya, buat muntah, muntah tak bersisa
Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih
Beradu, nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa
Hamba yang kemudian berlari, bersembunyi,
Mungkin di bawah kolong kehidupan
atau di bawah tumpukan dosa
Berpaling, itu yang jelas hamba lakukan
           
            Yogya, 19 Juni’12
           

Minggu, 27 Mei 2012

Sajak buat Angga


sore tadi kubongkar kertas usang dari tumpukannya yang hampir terbuang
ada satu yang menarik!
sebuah kertas dengan warna putih, tapi mataku salah
itu merah jambu yang benar pudar
mataku beranjak cepat melihat tulisan model ceker ayamku
ada tiga kata berjejer manis yang menatapku manja
“sajak buat Angga”
ah, aku baru ingat!
satu sajak janjiku padanya
maaf sayang, aku  terlambat menuliskannya
harusnya sajak manis sudah aku lontarkan di masa yang lalu
tapi tak apalah, aku takut dosa jika tak kutepati
 dan ini sajakku yang terlambat untukmu...
kemarin satu sosok datang mengetuk jendela kamarku
dan kemudian aku dengar ocehan
benar, aku masih ingat  apa yang dilontarkan
“masa lalu! masa lalu!”
tubuhku yang kemudian meronta kuat tuk lepas
berlari sengit tuk cepat mencumbunya
aku yang kemudian dengan bringas mengacak-acak tiap bagiannya
aku yang kemudian menemukan satu sosok lain tepat di pusaran lalunya
hal hina apa yang telah mematri lalunya jadi abadi
jelas aku lebih buas dari lalunya
masuk telah dan lebih dalam menggerogotinya
tapi nyata, lalunya tak kunjung beranjak sedari tadi
masih saja gema berisik ketukan di jendela
sekarang siulan gairah dari mulutnya kudengar
mengajakku kembali bergumul manja
mencipta rasa tuk acuhkan segala
Yogyakarta, 27 Mei 2012



Minggu, 29 April 2012

Sajak Maret untuk BBM



mulai bosan menyapa pagi hari
wajar saja jika tadi sebelum teriakan ayam jago dimulai, kabut abu berbisik pula padaku, ''aku sungguh muak dengan senyum manis matahari''
 benar, aku pun sama, bosan dengan celoteh paginya sekarang,
 bisakah kau tetap terjaga di sni kabut?sembunyikan matahari untuk satu hari ini saja, aku benar bosan rengekan manusia-manusia fana itu,
benar bosan, hingga ingusku pun meronta tuk bebas dari hidungku,
 sebab tak bisa lagi kucium wangi tradisi tentram seperti dulu,
kini yang ada setiap pagi gonggongan anjing galak menyalak lepas, bosan dengan pagi.

Yogyakarta,  2012

Tiduri Ibu Pertiwi



bagaimana mungkin awan hitam merangkak pergi?sedang hujan belum sempat meniduri ibu pertiwi...

Yogyakarta, 2012

Hujatan Hujan




Ketika aku mengingat dan mencoba merangkai sosok dunia yg sebenarnya, hanyalah fana yang kudapat. Sadarkah hujan tak selalu meneteskan air dan merintihkan desahan angin? Terkadang hujan mampu menumpahkan butiran abu lembut dan menorehkan kabut pekat. Jika kudapati itu semua, maka wajah ini akan tertunduk lemas, hingga telinga ini menjadi perih. Semua ocehan hujan, terbaca menghujat, mengoyak, dan membinasakan helaan napas semua makhluk.

Yogyakarta,  2012

Gemericik Banyu


gemericik banyu mematung
tertegun menyaksikan sandiwara liar:
        sang hawa
peranan hawa lagi menghujat
mengoceh tak berjeda lambat
sembari melayangkan bola mata
pada sunyi yang pekat

"aku pernah berbisik pada senyum manjamu
 aku pernah merangkul hangat tatapanmu
 aku juga pernah mencumbu lebih dalam embusan napasmu
 aku yang pernah menghabisi waktu dengan iringan desah puasmu"

 jeda tengah berjalan selangkah
 mengantar hawa tuk menyeruak lebih tajam
 seperti anjing jalang merajai malam
 menggelepar gonggongan amarah

 tubuhnya tersenggal mulai tercekik
 perihnya lebih dari sekedar lara sayatan
 tetesan getih jadi menghujan
 terhuyung  jatuh hingga memekik

hawa yang kembali membeku
serupa patung batu berlumut
hadap satu arah dan terpaku
semakin buram oleh kabut

gemericik banyu terus mematung
tertegun menghabiskan torehan liar:
        sang hawa

Yogyakarta,  2012

setubuh gerimis



kembali bersetubuh dengan gerimis
tak seotak pun bisa menepis
cucuran banyu menusuk lebih lekat
mendekap hembusan napas pekat

angin yang kemudian bicara pada tetesan bening
lantang bersuara tuk cepat menyingkir
mencerca menolak birahi jasad yang mungkir
tanpa henti merajuk tak bercelah hening

jika sudah muak dengan ocehan bayu
tusukkan sadis semakin mengena
merobek setiap pori milik jasad
tembus dasar hingga menggeliat kaku

gerimis yang terus berselimut denganku
merajuk manja hirup wangi intimku
gerimis yang terus menindihku
buat erang engah napasku

saat puncak euforia
teriakan payah tak lagi bernyawa
terhanyut oleh rintih desahan
selingkung dengan surgawi Tuhan
Yogyakarta, 2012

tuan mabuk


         mabuk kepala hamba
lihat kemeja merah  itu dengan dasi lurik melilit di lehernya
buat pusing bola mata
lihat juga jas hitam mahal itu tanpa satu pun ketombe yang terlihat
nongkrong di pundaknya
            kepalanya bersih tiap hari dicuci pake shampo jadi wangi
            tak seperti aku manusia tanpa kantong di baju
            rambut tak dicuci shampo pun tak terbeli
lihat kemeja merah, berdasi, dengan jas hitam berjoged ke kanan ke kiri
membisik telinga polos merajuk kayak setan lagi mabuk
            mana ada yang tak terima
            uang logam dari emas
            yakin yang tergoda tersenyum lebar sambil berkata,”Pilih budak yang tuan suka”
mengembang tawa membahak, “Aku pilih kaum itu, gampang aku bodohi dan bobol dompetnya”
            inilah balada tuan mabuk
Yogyakarta,  2011

cerita gerbong tua


gerbong tua kereta ekonomi
mulai merangkak pelan
ngelus rel sepanjang sawah
dua wanita bergincu merah mulai berbincang
            celotehnya:
                        soal rakyat tani
                        tanah kering kerontang
                        nasib yang jelek
ah, mereka semangat sekali
berangan membenahi rusaknya negeri agung ini
sama semangatnya
dengan tikus-tikus yang
memakan habis tanaman padi
di kantor tinggi
Purworejo,  2011

memilih iblis


menyentak kaki para wayang
lenggok pinggul mereka sungguh bangkitkan birahi
ada yang lain
mereka yang aneh suka mengundang ghoib
mereka yang aneh ngumpul bercumbu dengan setan
angin ngembus terpa tubuh bangkitkan gairah
membawa jawaban
manusia rakyat itu lebih memilih berbaur dengan iblis
dari pada duduk mengoceh di gedung agung punya negara

Yogyakarta,  2011

Luluh Lantah


angan telah terpecah belah
seiring muncul senja bergaris merah
dan peluh menetes lelah
sungguh sayang, hidupnya telah luluh lantah

Yogyakarta,  2011

kehilangan


sesekali dapat dirasa rindu yang mencekam di kalbuku
sepertinya kata-kata lembut terus saja berjalan mengetuk pintu di luar sana
kala itu gerimis turun merambat di tanganmu juga tanganku
kali ini yang terjadi bertolak belakang dengan yang dahulu tercipta
sama sekali tak bisa kuhirup aroma jahe hangat lewat peluh tubuhmu
yang dirasa kini adalah panas mencekik nyawa

Yogyakarta,  2011

hewan?kerbau?kau?


lihat di sini nurani tak lagi menemani
coba tatap kembali
jiwa menjadi rusak sekali

hey, siapa mau menemani?
hey, siapa mau perbaiki?

ah omong kosong!
mereka hanya pikir soal kantong
ah omong kosong!
semua hanya berita bohong

kawan,
terus sajalah keluar tangis
mereka itu bengis

lihat rumah roboh
sakupun tak dirogoh

dengar nyanyian perut nyaring
hanya keluar senyum garing

hewan apakah kau?
seolah jadi suatu yang silau
hewan apakah kau?
ternyata memang kerbau

Yogyakarta,  2011

Hentikan Tuan



tabir jadi gelap
oleh sentuhan kabut sehabis hujan
lalu coba sibak remang hitam itu
yang kau lihat
raut itu datang lagi 

merasuk tembus dasar hati
jadi dingin saraf ini Tuan
gemetar jiwa pun menyerbu kembali 

cepat hentikan
kalau tidak hati pasti mati merindu

Yogyakarta,  2011

Di Dalam Kereta


Bising raduan roda besi 
mengantar alam melenggang

sayup ocehan penumpang terbahak 
membisik gendang hati

tak ada yang memikat
hanya damai dalam hati
entah senang entah kekang


ini di dalam kereta
kereta dalam perjalanan pulang
pulang ke asal kehidupan...

Kutoarjo,  2011