Saat kesepian mulai nyata menyusup di sekitar
kepalaku, kenapa justru semakin jelas saja suara berisik. Yah, aku mengakuinya,
batinku yang tak henti-hentinya mengumbar obrolan. Ini sama seperti sekelompok
ibu-ibu tua dengan gelang emas berderet di tangan yang saling melempar
basa-basi basi selama acara arisan berlangsung.
Wajar jika aku benci dengan sepi. Sepi membuat
semua kenangan semakin jelas, semakin nyata berjalan berderet di hadapanku.
Terkadang aku mencoba untuk menyibak bagian dari banyak baris kenangan yang
berjalan pelan di depanku, tapi tak pernah berhasil. Kasihan, sungguh kasian.
Bagaimana dengan gelap? Sama saja! Ia sama
kurangajarnya. Gelap menambah gambaran kenangan semakin dan semakin nyata.
Untuk itulah aku memasang lampu yang terang di kamarku ini. Yah, harapanku
semoga gambaran kenangan itu bisa sedikit kabur sebab kalah oleh cahaya lampu.
Kalau lampu ini bisa di pasang di dalam otakku, mungkin aku akan memasang
puluhan lampu, menyilaukan kenangan sampai tak bisa terlihat lagi.
Lucunya, sehebat apapun aku mengusir sepi,
sehebat itu pula sepi melabuh di otakku.
Bencilah kepada sepi
jika ia
tak hentinya
mencemooh
menambah berisik
ilusi terhadap
kenangan
Bencilah kepada sepi
jika ia
justru menyuarakan
yang ingin
ditinggalkan oleh
hati
Bencilah kepada sepi
jika ia
hanya bisa membuat
hati
semakin tergerus
rindu
Itu sajakku, sajakku buat kamu, sepi.
8 Februari 2013
.jpg)