secuil coretan

Minggu, 04 November 2012

Untuk yang Kemudian Pergi



Aku tak pernah sekalipun.
Aku tak pernah sekalipun menyalahkan kedatangan birahimu itu.
Aku tak pernah sekalipun mengusir kehadiran naluri busukmu itu.
Sungguh tak pernah sekalipun aku berkata, “Takkan lagi engkau merayuku sayang.”

            Mataku kosong, tetapi masih saja kupandangi gambarmu dalam ilusiku sendiri. Ah, pikiranku mulai rumit, ratusan bahkan ribuan kenangan muncul, berhamburan, dan tak dapat terhubung dengan benar sama sekali. Yah, itu yang berhamburan banyak sekali muncul bentukan wajahmu yang rupawan, wajahmu yang seperti lebah di tengah hamparan ribuan bunga mawar.
            Pagi yang malang. Aku diam dan jantungku sepertinya memang baru saja dilempari pisau tajam yang menancap persis di tengah-tengahnya. Kemudian aku hanya merasakan perih. Pipiku kemudian panas oleh aliran air yang turun dari mata, mungkin bisa menjelaskan bahwa pagi ini aku benar-benar sedang menangis. Bagaimana mungkin aku tidak berduka atas apa yang telah terjadi untuk peristiwa sekarang.
            Tubuhku menjadi sedikit basah oleh keringat, kulirik kipas angin dengan jeruji penutupnya yang sudah berkarat masih setia menyapukan angin untukku. Lalu kutarik selimut tebal untuk menutupi badanku. Pacarku masih tertidur dengan pulasnya di sampingku. Kukecup keningnya untuk yang kesekian ratus kali. Matanya terbuka dan membalas kecupanku dengan cium yang begitu manis di bibirku, sebelum ia tertidur kembali.
            Aku berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhku dengan air. Meski hanya guyuran air dari bak yang dasarnya sudah menghitam oleh kerak membandel, rasa segarnya sama dengan air yang terjun dari tebing di pegunungan. Mataku tetap saja merah dengan cucuran cairan bening yang tak kunjung berhenti mengalir, sepertinya ini mau mengalahkan derasnya air guyuran dari gayung yang kusiramkan di atas kepalaku.
            Entah, sudah berapa kali aku menyiramkan air ke kepalaku, aku pikir ini bisa membuatku lupa tentang bayang-bayangmu. Aku pikir guyuran air ini bisa membawa sosokmu ikut hanyut jatuh ke lantai kamar mandi ini. Lelah sudah rasanya mengenali wajahmu yang begitu tampan di mataku. Tak sanggup lagi rasanya, mengingat hangatnya ciuman dari bibirmu.
            Di dalam kamar mandi inilah kumuntahkan segala kotoran di otakku. Bayanganmu memang seperti kerak di bak mandi ini yang begitu sulit untuk dibuang. Kenapa selalu muncul. Kenapa muncul di setiap kencanku dengan lelaki lain. Sungguh ini begitu mengganggu, aku muak. Sungguh muak.
            Kejadian waktu itu cukup membuatku setengah gila. Di saat aku menumpahkan segudang harapan indah tuk hidup bersamamu, undangan pernikahanmu sampai di tanganku. Pecah sudah hatiku dan tak ada lagi tempat untuk cintaku ini.
            Berhari-hari kucoba untuk beranjak dari ribuan kenangan busuk kita. Aku kencan dengan beberapa lelaki gila, mereka mengaku mencintaiku. Namun, jelas kutahu mereka hanya ingin mengecup buah dadaku.
            Sudah hampir setengah jam berlalu, aku masih saja berdiam di kamar mandi kecil ini. Hingga jelas kudengar lantai kamar mandi ini menertawakanku.
            “Hahaha..mau apa sekarang? Apa kau akan tetap berada di kamar mandi yang busuk ini? Aku sudah bosan melihat kemaluanmu yang telanjang itu. Aku bosan melihat tubuhmu yang tak lagi berbentuk indah itu. Pergilah segera dari sini. Jika kau tidak pergi, bak mandi itu pun akan segera mencemoohmu. Aku tahu sekali bagaimana bodohnya kau sekarang. Kau begitu bodoh menangisi kepergian kekasihmu itu. Tolol sekali. Dari dulu aku sudah sering memintamu untuk segera tinggalkan. Setiap malam kau dengan lelaki kebanggaanmu itu mandi dan bergulat di dalam kamar mandi ini. Meski kau tertawa bahagia, tapi aku tahu. Lelakimu itu sama busuknya dengan kerak hitam itu. Ia hanya mau menjebol tubuhmu. Bodohnya kau itu. Bodoh!”
            Aku diam, aku malu dan entahlah, aku sama sekali tidak mengerti mengapa ini begitu sulit, perasanku terlalu kuat. Pipiku kini semakin panas saja, sepertinya air mataku telah berubah menjadi air panas yang baru saja mendidih sehabis dimasak. Kini aku hanya bisa menangis tanpa tau kapan akan berakhir.
            Tak lama aku mendengar suara langkah kaki menuju kamar mandi ini. Segera kukeringkan air dari tubuhku dan air mata ini, aku hapus dengan kedua tanganku saja.
            “Cinta..apa yang kamu lakukan di dalam sana. Keluarlah, aku ingin mencium bibirmu.” Itu suara kekasih baruku. Memang, kekasih baruku itu begitu baik padaku dan tidak tahu mengapa, aku sedikit menyayanginya sekarang. Meskipun bayangan lelaki lamaku masih terlalu sering hadir di waktu bercintaku.
            Kubuka pintu kamar mandi dan langsung memeluk tubuh kekasihku itu. Dalam dekapannya, aku berjanji pada hatiku sendiri untuk segera melupakan tentang yang lalu dan memberikan seluruh sisa bahagiaku untuknya.
***
            Kamu adalah lelaki yang paling banyak mendapatkan tempat di hatiku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Kamu lelaki yang paling banyak mendapatkan senyum tulusku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Kamu lelaki yang paling banyak merasakan hangat tubuhku dibandingkan beberapa laki-laki lain. Aku tak bisa, sungguh sulit untuk kembali merangkak dari mimpi ke dalam nyataku.
            Dulu mungkin iya, benar, aku yang selalu mengundangmu untuk datang. Setiap sore dengan angin yang mengibas lembut panjang rambutku, dengan awan yang semburat merah, aku berdoa, meminta kepada Tuhan untuk segera datangkan kamu. Datangkan seseorang yang bisa dijadikan alasanku untuk menangis di pundaknya. Datangkan seseorang yang bisa kupameri senyum manis dari bibir merahku. Datangkan seseorang yang tubuhnya bebas kupeluk ketika aku terancam oleh kenyataan. Namun, sekarang aku tak ingin lagi. Kamu telah miliki wanita lain. Aku tak akan memintamu untuk datang kembali. Tak lagi kupinta kamu tuk temani tidurku malam ini.
           
Oktober 2012
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar