Tak pernah seperti ini kumerindu
Rindu napas dan hangat tubuhmu
Sungguh, kamu lelakiku.
Sore yang
gembira. Awan hitam mulai menyelimuti langit kota ini, membuatnya semakin redup,
tapi aku tidak menjadi muram. Aku akan menemuimu, menepati janji berkenalan
tempo lalu. Memang, senja sore ini tidak begitu cantik, langit tak bersemburat
merah. Hanya ada gerimis lembut yang berkali-kali menyentuh wajahku yang bulat.
Hari ke-1
Aku masih menatap
ponselku ketika setelahnya kulihat seseorang melambaikan tangan tak jauh dari
hadapanku.
“Baiklah, mari
lakukan.” kataku dalam hati. Kudekati sosok itu. Semakin dekat, lalu kenapa jantungku
semakin kencang berdegup? Begitu kencang hingga tembok gang itu menertawakanku.
Ah, ini sungguh membuatku malu.
“Hentikan! Ini
hanya pertemuan biasa.” tegasku dalam hati.
Untuk apa aku gugup.
Ini hanya perkenalan seperti yang sudah-sudah. Maaf, jika sebelumnya dua kali sudah
kubatalkan pertemuan ini. Aku juga masih heran kenapa Tuhan mengundur jadwal
berkenalan kita sampai dua kali. Oh, mungkin Tuhan sekedar memberi aba-aba,
jika selanjutnya perkenalan ini akan banyak menguras tenaga dan emosi, maka Ia
membiarkan kita untuk menata hati terlebih dahulu. Baiklah, aku turuti alur
ceritaNya.
Hanya dalam
hitungan menit sepeda motor yang kukendarai berhenti di hadapanmu. Aku
tercengang.
“Ah, lelaki
nakal.” kesan pertamaku untukmu. Bagaimana tidak? Kamu memakai kaos hitam dan
celana panjang yang robek di beberapa sisi. Piercing-piercing yang terpasang
di bibir mengalahkan kaca matamu yang elegan.
“Lu basah,” itu
ucapan pertama yang keluar dari mulutmu.
“Oh, cuma kena gerimis
kok,” balasku. Sebenarnya aku malu, sebab gerimis membuat penampilanku semakin
buruk saja.
“Kalau begitu ayo
masuk,” ajakmu kemudian.
Manjaku muncul. Seenaknya aku memintamu untuk memarkirkan kendaraanku.
Aduh, bodoh sekali. “Maaf ya, belum
apa-apa kamu udah jadi tukang parkir.” Ledekku untuk mencairkan suasana.
Kulihat kamu hanya tertawa.
“Baik-baik ya di
sini. Nanti aku ceritakan soal dia.” Kataku pada sepeda motor putihku. Ia hanya
tersenyum, seakan tahu kalau aku akan mempunyai banyak kisah denganmu.
Aku berjalan mengikutimu masuk ke dalam rumah. Kamu
terlihat menakutkan, tapi tunggu dulu, kamu juga sungguh manis. Ini kesan
setelah melihatmu pertama kali. Sayangnya, aku tak pernah tahu bagaimana kesan
pertamamu untukku, karena hingga sampai di akhir tak sempat kutanyakan hal itu.
Yang aku tahu, waktu bertemu denganmu penampilanku terlewat biasa. Sama sekali
tak kubuat menjadi lebih baik. Bodohnya aku. Mungkin seharusnya aku bersolek
atau paling tidak menyisir rambut panjangku terlebih dahulu. Supaya selanjutnya,
kamu bisa lebih tertarik dengan perkenalan kita.
Tanpa pamit sore
pergi digantikan oleh malam. Hanya gerimis yang masih bertahan. Saat gerimis
mulai berlalu dan menyisakan udara sejuk. Kita sepakat untuk pergi jalan-jalan.
Ah, sudah lama aku merindukan ini. Menikmati jalanan kota ini di malam hari dengan
lelaki di dekatku. Meski bukan dengan kekasihku.
Tak kusangka,
begitu cepat kita menjadi dekat. Cinta pun sepertinya datang terburu-buru. Ia
berlari, tanpa memberi salam terlebih dahulu. Menyelonong masuk saja di hatiku.
Percayalah, aku sempat menolaknya, tapi sepertinya ia juga menolak untuk pergi.
Baiklah, kubiarkan ia untuk tinggal di hatiku. Pikirku, jika bosan maka akan
pergi pula dengan cepat. Secepat ia datang tadi.
Senyumnya begitu
renyah, pantas saja aku doyan mendengarkannya berbicara. Sebab, ketika dia
berbicara, aku bisa puas melihat senyum yang menawan itu. Ah, obrolan kami
memang singkat dan membuat kecanduan. Oh ya, sebelumnya aku tidak pernah tahu jika
ia memiliki pita suara yang bagiku sempurna. Sempurna untuk membuat wanita
jatuh hati. Mendengarnya bernyanyi, saat itulah aku jatuh cinta untuk
kedua kalinya, pada orang yang sama.
Malam yang gila! Aku
tidak terlalu menyukai bagian ini. Kamu mengenalkan kebiasaanmu yang buruk. Yang
kurasakan kemudian tubuhku serasa melayang, tetapi kepalaku semakin berat. Aku
hanya ingin tidur. Hmm, aku tidak begitu yakin dengan apa yang terjadi
kemudian, tetapi aku masih ingat bagaimana kamu memintaku untuk menjadi
wanitamu. Aku juga tidak menyangka jika ucapan, ”Iya” meluncur begitu saja
keluar dari mulutku. Dan ketika ingin kuluruskan ucapanmu itu, bibirku sudah
beradu dengan bibirmu. Ciuman pertama kita, manis.
Hari ke-2
“Selamat pagi
pacar baruku.” Kuucapkan itu pada hembusan napasku yang pertama ketika kubuka
jendela kamarku. Oh sungguh indahnya pagi.
Aku masih
tersenyum riang sambil menghabiskan pagi di hari ini. Hingga kemudian senyumku hilang
sewaktu kutahu kamu tak bisa datang menemuiku di hari ini.
“Ah, mungkin dia
sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.
Pagi berjalan
menjemput sore dan malam. Kita tak bertemu.
Hari ke-3
“Sayang, hari ini
kita bertemu kan?” Pertanyaanku di pagi hari ini.
“Tentu, selesai
pekerjaan ini aku datang sayang.” Balasmu dengan lembut.
Aku berdendang
setelah itu. Pergi mandi, membersihkan badan, menyisir rambut. Aku coba untuk
menyepadupadankan pakaianku. Aku suka memakai rok, ini membuatku menjadi gadis yang
lucu. Ah, menurutku sudah cantik. Tersenyum-senyum aku di depan cermin.
Siang datang, tak
ada kabar darimu.
“Ah, mungkin dia
masih sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.
Sore datang.
“Sayang, nanti
malam aku baru bisa datang.” Itu kabar darimu.
Baiklah, aku akan
menunggu. Sore menjadi bertambah lama. Mungkin ini karena rindu. Rindu kepada
pacar baru.
Waktu berjalan
sangat lambat, hingga malam akhirnya sampai.
“Kamu tidak
datang sayang? Ini sudah hampir pukul 12. Aku mengantuk.” isi pesanku untukmu.
Tak ada balasan.
Pukul 1 dini
hari. Kamu baru muncul. Mukamu kusam, tubuhmu sempoyongan. Hmm, kamu mabuk
sayang.
Hari ke-4
Sekarang kamu
datang pukul 2 dini hari.
“Sayang, kenapa
setiap hari kamu harus mabuk. Tak bisakah aku bertemu kamu saat tubuhmu normal?
Aku mulai lelah. “
Pertanyaanku itu
hanya kamu balas dengan ciuman. Aku ingat, malam ini aku berkata padamu jika besok
aku akan pergi ke luar kota. Aku juga ingat kamu marah dan tak mengizinkan aku
tuk pergi, tapi bagaimana lagi. Aku harus tetap pergi. Tiga hari memang
menyebalkan dan menjadi waktu yang lama untuk menahan rindu untukmu.
Aku terlelap
dalam pelukmu.
Hari ke-5
Aku sedikit
membenci hari ini. Ketika aku tahu bahwa di hari ini juga kamu harus pergi dari
rumah untuk sebuah pekerjaan di luar kota.
Kita berada di
stasiun berbeda, di waktu dan kota yang sama. Aku sempat bertanya, kenapa kita
tidak menaiki kereta yang sama? Tapi sudahlah, mungkin memang kita harus
terpisah supaya kita bisa melepas kepergiaan dengan semakin mudah.
Malamnya aku
bermimpi sungguh buruk.
Di dalam mimpiku,
kita berada dalam satu kereta yang sama. Duduk berhadap-hadapan. Aku heran kenapa
di dalam mimpi kita tidak duduk berdampingan saja? Setelahnya, kulihat ada
wanita yang sudah duduk di sampingmu. Ia tertidur lelap di bahu kananmu. Aku
berada di depanmu, tapi matamu sepertinya tidak melihat tubuhku.
Aku terbangun dan
menangis.
Hari ke-6
Deburan ombak
terdengar semakin jelas di telingaku. Biasanya aku menjadi damai ketika berada
di pantai seperti ini. Tetapi, tidak kali ini. Mimpi semalam begitu nyata.
Kuhembuskan
napasku seiring angin menghempas tubuhku, menerbangkan rambut hitamku. Angin
sepertinya ingin menyadarkanku, bahwa aku tak boleh bersedih hati. Aku ingat
apa yang dikatakan angin waktu itu. “Tenanglah, hanya mimpi. Kamu mencintainya
bukan? Jadi percayalah. Ia juga akan menjaga hatinya untukmu.”
Baiklah, aku akan mengangkat wajahku dan
mengundang kembali senyum di bibirku. Aku tak boleh melewatkan waktu. Akan
kurasakan bagaimana rasanya kasmaran denganmu.
Kuceritakan semua
pada ayah dan bundaku. Bagaimana aku bertemu denganmu, bagaimana senyumanmu
memabukkanku, dan bagaimana pelukmu bisa terasa sangat hangat. Ketahuilah, ayah
dan bunda juga ingin berjumpa dengan lelaki yang telah membuatku jatuh cinta.
Hari ini aku
menghubungimu. Aku tak pernah melewatkan untuk mengirim pesan kepadamu.
Menanyakan keadaan dan keberadaanmu.
Tetapi, tak ada balasan darimu.
“Ah, mungkin dia
masih sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.
Hari ke-7
Hari Minggu yang
jahanam.
Pagi ini aku menunggu kabar. Tak ada yang datang. Aku bertanya-tanya.
Apakah kamu sudah kembali ke kota ini? Atau kamu masih bertahan di kota itu.
Aku ingin memberi
kejutan padamu hari ini sayang. Aku akan kembali dan bertemu denganmu. Kamu
pasti rindu bukan? Samakah rindu kita? Tak sabar rasanya merasakan hangat
tubuhmu begitu kita bertemu nanti.
Tuhan tidak
begitu baik saat itu.
“Sayang, aku
harus pulang ke Borneo. Sebentar lagi pesawat take off.” Isi pesan
darimu sore ini.
“Apa! Aku hampir
sampai dan kamu malah mau pergi?” balasku setengah berteriak.
Pesanku tidak berlanjut. Mungkin pesawat sudah terbang.
Tak henti-hentinya
aku bertanya. Kenapa kamu dengan mudah pergi jauh tanpa sebelumnya
memberitahukanku. Kenapa? Apakah kamu tidak merasakan rindu untukku? Oh, sayang
kenapa sampai hati kamu pergi tanpa bertemu dahulu denganku.
Malam ini aku menangis
sampai tertidur.
Hari ke-8
Tak sengaja aku
membaca obrolanmu dengan seorang wanita di akun media sosial. Jantungku
berdetak kencang, tubuhku lemas, aku sempoyongan. Ya Tuhan, apa lagi ini. Aku
tak bisa berpikir benar saat ini. Otakku membeku. Aku melawan, kucoba artikan
satu persatu kalimat percakapan kalian. Hingga aku terduduk lemas. Aku tahu,
seharian ini kalian bersama. Tidur bersama.
Sudah kutanyakan
padamu, siapa wanita itu. Aku senang karena kamu mencoba membuat alasan tentang
wanita itu. Meski sebenarnya aku tahu semuanya. Pertanyaan tentang siapa dia,
sudah kutemukan jawabannya. Aku tak lagi bisa percaya ucapanmu. Kupilih untuk
menutup sakit hatiku saat itu. Aku lebih memilih bahagia denganmu. Aku lebih
memilih mengucapkan seribu rindu padamu dari pada berdebat soal wanita
peliharaanmu yang lain.
Bajingan! tiba-tiba
di hadapanku muncul wanita itu bersamamu. Dia melumat bibirmu, dia merasakan
hangatnya pelukmu, dia menyentuh tubuhmu. Cukup! Aku berteriak hingga merobek
ilusi itu. Napasku terengah, syukurlah, nuraniku masih mampu mengajakku untuk
tenang. Tak sedikit pun kusentuh wanitamu
itu.
Hari yang sungguh
buruk. Aku terlelap.
Hari ke-9
Kamu malas-malasan
mendengarkan ocehan dariku tentang rindu buatmu. Mungkin kamu terlalu lelah.
Baiklah, aku mengerti.
Aku menangis dan terlelap.
Hari ke-10
Kamu tak
membalas pesan atau pun teleponku.
Aku rindu.
Hari ke-11
Kamu menghilang.
Aku semakin rindu.
Hari ke-12
“Sayang, aku
rindu. Kamu balas pesanku bisa?” kukirim pesan padamu.
“Ya, aku juga.”
Balasmu. Hanya itu
Hari ke-13
“Sayang, temani
aku tidur malam ini.” Aku memohon padamu.
“Aku belum tahu
kapan kembali lagi.” Balasmu. Hanya itu.
Hari ke-14
Rinduku tak
tertahan. Bahkan kamu sendiri tak mampu mengobatinya. Aku kebingungan. Setengah
gila.
Malam ini sedih mengantarkan
tubuhku untuk tidur. Di dalam mimpi kulihat kamu kembali ke kota ini. Aku
tersenyum menyambutmu, tetapi kamu bersama seorang wanita. Wajahnya sama dengan
yang kutemui di kereta dalam mimpi sebelumnya.
Aku tidur sambil
terisak penuh sesak.
Hari ke-15
Kamu kembali ke
kota ini. Sayangnya, bukan aku yang menyambut kedatanganmu. Lagi-lagi wanita
yang wajahnya sama di mimpi-mimpiku kemarin. Tetapi, ini nyata bukan mimpi.
Aku marah, aku
cemburu dengan wanita itu. Kamu bahkan tak memberi tahu jika akan kembali hari
ini. Benciku tiba-tiba hilang saat aku ingat jika aku bisa memelukmu lagi.
Aku menunggu
malam ini, tetapi kamu tidak datang.
Aku tetap bersabar.
Hari ke-16
Pukul 2 dini
hari.
Kamu menemuiku
dengan tubuh setengah sadar. Kamu mabuk lagi, tapi aku bahagia bisa bersamamu
malam ini. Rinduku terlalu berat untuk kutanggung sendiri. Sempat aku mengajak
berbicara menyoal wanitamu yang lain. Jawabanmu sungguh membuatku bahagia. Aku
ingat, katamu kamu mencintaiku, katamu dia bukan siapa-siapa, dan katamu aku
akan menjadi kekasihmu yang tercinta.
Oh cinta, sungguh
aku menyayangimu. Kita tertidur dalam pelukan.
Hari ke-17
Aku tidak penah
mengerti kenapa hari ini berlalu dengan begitu kejam. Malam ini tubuhmu seperti
dirasuki setan. Tak tahu dari mana kamu dapatkan rasa benci. Padahal pagi
hingga siang hari kita masih dihujani kemesraan seperti pengantin baru. Aku
meringis dianggap sebagai wanita murahan. Kamu melontarkan puluhan kata-kata
kasar. Kamu menuduh jika aku telah bermain dengan lelaki lain. Tak tahu apa
yang terjadi padamu. Aku sedih luar biasa.
Malam ini dingin
menusuk tulang-tulangku. Aku merangkak ke jalanan. Kulihat arlojiku. Hampir
pukul 2 dini hari. Aku harus bertemu denganmu. Meluruskan hal yang konyol ini.
Ketahuilah aku tak pernah mau berpisah denganmu.
“Aku di jalan
sayang. Sebentar lagi sampai.” Kukirimkan banyak pesan untuk menenangkanmu.
Udara malam ini
begitu hitam dan menyesakkan. Hampir tak bisa kupandang wajahmu yang tampan.
Tubuhmu dipenuhi lumut-lumut abu-abu. Aku mencoba menggapaimu tanganmu,
berusaha meraih tubuhmu. Tak berhasil.
Setan kemudian
masuk ke tubuhku, sepertinya ia tak mau jika kita berbicara secara wajar. Aku
juga sama sekali tak mengerti kenapa tanganku bisa mendarat di wajahmu dengan
keras. Maafkan aku, tapi sungguh aku tak bisa menghentikan marahku.
Hari ke-18
Aku tidak tidur.
Mataku sembab, merah, tak ada air mata. Ingin sekali menangis, tapi tak bisa.
Entahlah, aku masih bernapas, tapi tubuhku seperti mati.
Aku tak percaya
kamu memperlakukanku kejam seperti itu. Perihnya pipiku setelah tanganmu
menghajarnya menambah pedih hatiku kala itu. Katamu itu balasan untukku.
Baiklah, aku mengerti. Dan aku tak pernah menyalahkanmu.
Angin subuh
menjadi saksi, bagaimana waktu itu aku benar-benar ingin memelukmu dan
mengatakan, “Sayang, ini kesalahan. Tak seharusnya kita bertengkar hebat
seperti ini. Aku mencintaimu.”
Hari ke-19
Katamu kita
berpisah, tapi sungguh hatiku menolak. Aku kekasihmu dan tak mau pergi dari hatimu.
Mungkin puluhan pesan dariku membuat ponselmu jengkel. Aku mengerti kamu tak
mau melihat wajahku lagi. Tapi, aku rindu. Benar-benar rindu. Untuk itulah aku
pergi menunggumu di rumah. Kamu tak pulang.
Aku memohon
pertemuan denganmu kepada Tuhan. Dan Dia mengabulkannya. Aku bahagia, bisa
melihatmu tersenyum lagi. Aku bahagia bisa mencium bibirmu lagi.
Hari ke-20
Aku tak pernah
berharap ini menjadi hari terakhir untuk kita. Sejak semalam aku menunggu kedatanganmu.
Ingin sekali malam ini kamu temani tidurku. Tahukah kamu, seisi kamar ini
menertawakanku. Mereka mengejekku, mencemoohku, mereka bilang padaku jika kekasihku
tak akan pernah datang.
“Untuk apa lelaki seperti dia ditunggu? Dia
tak akan pernah datang. Dia tidak mencintaimu. Tidurlah dan berhenti
menunggunya.” Itu kalimat yang keluar dari mulut mereka.
Aku tak
mempercayai ucapan mereka. Aku yakin sekali jika malam ini kamu akan datang.
“Dia sudah janji
akan datang. Jadi, diamlah kalian!” bentakku pada mereka.
“Baiklah, namun
jika kami benar bahwa dia tak akan datang. Pergilah untuk meninggalkannya.”
balas mereka kemudian.
Aku tak mampu
melontarkan kalimat lagi. Aku hanya bisa terduduk lemas di pojok ruangan ini.
Menatap arlojiku. Waktu berlenggang begitu saja. Sepi, tanpa ada udara yang
bergerak sedikit pun. Tak hal yang memberikan tanda jika kamu akan datang.
Menjelang pagi.
Tubuhku semakin lemas. Kamu tidak pernah datang lagi.
...
Kuketahui setelahnya,
kamu telah beristri. Dan wanita yang aku cemburui selama ini, dia sama saja
denganku.
...
Aku tak pernah
mengerti kenapa dua puluh hari ini terjadi. Aku tak pernah mengerti kenapa
Tuhan mengizinkanku menemuimu. Aku tak pernah mengerti kenapa cinta datang
bersamamu. Dan aku tak pernah mengerti kenapa cinta tak kau bawa pergi kembali.
Aku mulai membenci hari
ketika tak kudapat kau berada di dekatku
Aku mulai membenci hari
ketika rindu semakin bertambah tebal di hatiku
Dan aku semakin membenci hari
ketika waktu membuatku semakin mencintaimu
Jogja, 9 Februari 2014
