secuil coretan

Minggu, 09 Februari 2014

Dua Puluh Hari

Tak pernah seperti ini kumerindu
Rindu napas dan hangat tubuhmu
Sungguh, kamu lelakiku.

                Sore yang gembira. Awan hitam mulai menyelimuti langit kota ini, membuatnya semakin redup, tapi aku tidak menjadi muram. Aku akan menemuimu, menepati janji berkenalan tempo lalu. Memang, senja sore ini tidak begitu cantik, langit tak bersemburat merah. Hanya ada gerimis lembut yang berkali-kali menyentuh wajahku yang bulat.

Hari ke-1
                Aku masih menatap ponselku ketika setelahnya kulihat seseorang melambaikan tangan tak jauh dari hadapanku.
                “Baiklah, mari lakukan.” kataku dalam hati. Kudekati sosok itu. Semakin dekat, lalu kenapa jantungku semakin kencang berdegup? Begitu kencang hingga tembok gang itu menertawakanku. Ah, ini sungguh membuatku malu.
                “Hentikan! Ini hanya pertemuan biasa.” tegasku dalam hati.
                Untuk apa aku gugup. Ini hanya perkenalan seperti yang sudah-sudah. Maaf, jika sebelumnya dua kali sudah kubatalkan pertemuan ini. Aku juga masih heran kenapa Tuhan mengundur jadwal berkenalan kita sampai dua kali. Oh, mungkin Tuhan sekedar memberi aba-aba, jika selanjutnya perkenalan ini akan banyak menguras tenaga dan emosi, maka Ia membiarkan kita untuk menata hati terlebih dahulu. Baiklah, aku turuti alur ceritaNya.
                Hanya dalam hitungan menit sepeda motor yang kukendarai berhenti di hadapanmu. Aku tercengang.
                “Ah, lelaki nakal.” kesan pertamaku untukmu. Bagaimana tidak? Kamu memakai kaos hitam dan celana panjang yang robek di beberapa sisi. Piercing-piercing yang terpasang di bibir mengalahkan kaca matamu yang elegan.
                “Lu basah,” itu ucapan pertama yang keluar dari mulutmu.
                “Oh, cuma kena gerimis kok,” balasku. Sebenarnya aku malu, sebab gerimis membuat penampilanku semakin buruk saja.
                “Kalau begitu ayo masuk,” ajakmu kemudian.
Manjaku muncul. Seenaknya aku memintamu untuk memarkirkan kendaraanku. Aduh, bodoh sekali.    “Maaf ya, belum apa-apa kamu udah jadi tukang parkir.” Ledekku untuk mencairkan suasana.
Kulihat kamu hanya tertawa.
                “Baik-baik ya di sini. Nanti aku ceritakan soal dia.” Kataku pada sepeda motor putihku. Ia hanya tersenyum, seakan tahu kalau aku akan mempunyai banyak kisah denganmu.
                Aku  berjalan mengikutimu masuk ke dalam rumah. Kamu terlihat menakutkan, tapi tunggu dulu, kamu juga sungguh manis. Ini kesan setelah melihatmu pertama kali. Sayangnya, aku tak pernah tahu bagaimana kesan pertamamu untukku, karena hingga sampai di akhir tak sempat kutanyakan hal itu. Yang aku tahu, waktu bertemu denganmu penampilanku terlewat biasa. Sama sekali tak kubuat menjadi lebih baik. Bodohnya aku. Mungkin seharusnya aku bersolek atau paling tidak menyisir rambut panjangku terlebih dahulu. Supaya selanjutnya, kamu bisa lebih tertarik dengan perkenalan kita.
                Tanpa pamit sore pergi digantikan oleh malam. Hanya gerimis yang masih bertahan. Saat gerimis mulai berlalu dan menyisakan udara sejuk. Kita sepakat untuk pergi jalan-jalan. Ah, sudah lama aku merindukan ini. Menikmati jalanan kota ini di malam hari dengan lelaki di dekatku. Meski bukan dengan kekasihku.
                Tak kusangka, begitu cepat kita menjadi dekat. Cinta pun sepertinya datang terburu-buru. Ia berlari, tanpa memberi salam terlebih dahulu. Menyelonong masuk saja di hatiku. Percayalah, aku sempat menolaknya, tapi sepertinya ia juga menolak untuk pergi. Baiklah, kubiarkan ia untuk tinggal di hatiku. Pikirku, jika bosan maka akan pergi pula dengan cepat. Secepat ia datang tadi.
                Senyumnya begitu renyah, pantas saja aku doyan mendengarkannya berbicara. Sebab, ketika dia berbicara, aku bisa puas melihat senyum yang menawan itu. Ah, obrolan kami memang singkat dan membuat kecanduan. Oh ya, sebelumnya aku tidak pernah tahu jika ia memiliki pita suara yang bagiku sempurna. Sempurna untuk membuat wanita jatuh hati. Mendengarnya bernyanyi, saat itulah aku jatuh cinta untuk kedua  kalinya, pada orang yang sama.  
                Malam yang gila! Aku tidak terlalu menyukai bagian ini. Kamu mengenalkan kebiasaanmu yang buruk. Yang kurasakan kemudian tubuhku serasa melayang, tetapi kepalaku semakin berat. Aku hanya ingin tidur. Hmm, aku tidak begitu yakin dengan apa yang terjadi kemudian, tetapi aku masih ingat bagaimana kamu memintaku untuk menjadi wanitamu. Aku juga tidak menyangka jika ucapan, ”Iya” meluncur begitu saja keluar dari mulutku. Dan ketika ingin kuluruskan ucapanmu itu, bibirku sudah beradu dengan bibirmu. Ciuman pertama kita, manis.   

Hari ke-2
                “Selamat pagi pacar baruku.” Kuucapkan itu pada hembusan napasku yang pertama ketika kubuka jendela kamarku. Oh sungguh indahnya pagi.
                Aku masih tersenyum riang sambil menghabiskan pagi di hari ini. Hingga kemudian senyumku hilang sewaktu kutahu kamu tak bisa datang menemuiku di hari ini.
                “Ah, mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.
                Pagi berjalan menjemput sore dan malam. Kita tak bertemu.

Hari ke-3
                “Sayang, hari ini kita bertemu kan?” Pertanyaanku di pagi hari ini.
                “Tentu, selesai pekerjaan ini aku datang sayang.” Balasmu dengan lembut.
                Aku berdendang setelah itu. Pergi mandi, membersihkan badan, menyisir rambut. Aku coba untuk menyepadupadankan pakaianku. Aku suka memakai rok, ini membuatku menjadi gadis yang lucu. Ah, menurutku sudah cantik. Tersenyum-senyum aku di depan cermin.
                Siang datang, tak ada kabar darimu.
                “Ah, mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.
                Sore datang.
                “Sayang, nanti malam aku baru bisa datang.” Itu kabar darimu.
                Baiklah, aku akan menunggu. Sore menjadi bertambah lama. Mungkin ini karena rindu. Rindu kepada pacar baru.
                Waktu berjalan sangat lambat, hingga malam akhirnya sampai.
                “Kamu tidak datang sayang? Ini sudah hampir pukul 12. Aku mengantuk.” isi pesanku untukmu.
Tak ada balasan.
                Pukul 1 dini hari. Kamu baru muncul. Mukamu kusam, tubuhmu sempoyongan. Hmm, kamu mabuk sayang.

Hari ke-4
                Sekarang kamu datang pukul 2 dini hari.
                “Sayang, kenapa setiap hari kamu harus mabuk. Tak bisakah aku bertemu kamu saat tubuhmu normal? Aku mulai lelah. “
                Pertanyaanku itu hanya kamu balas dengan ciuman. Aku ingat, malam ini aku berkata padamu jika besok aku akan pergi ke luar kota. Aku juga ingat kamu marah dan tak mengizinkan aku tuk pergi, tapi bagaimana lagi. Aku harus tetap pergi. Tiga hari memang menyebalkan dan menjadi waktu yang lama untuk menahan rindu untukmu.
                Aku terlelap dalam pelukmu.

Hari ke-5
                Aku sedikit membenci hari ini. Ketika aku tahu bahwa di hari ini juga kamu harus pergi dari rumah untuk sebuah pekerjaan di luar kota.
                Kita berada di stasiun berbeda, di waktu dan kota yang sama. Aku sempat bertanya, kenapa kita tidak menaiki kereta yang sama? Tapi sudahlah, mungkin memang kita harus terpisah supaya kita bisa melepas kepergiaan dengan semakin mudah.
                Malamnya aku bermimpi sungguh buruk.
                Di dalam mimpiku, kita berada dalam satu kereta yang sama. Duduk berhadap-hadapan. Aku heran kenapa di dalam mimpi kita tidak duduk berdampingan saja? Setelahnya, kulihat ada wanita yang sudah duduk di sampingmu. Ia tertidur lelap di bahu kananmu. Aku berada di depanmu, tapi matamu sepertinya tidak melihat tubuhku.
                Aku terbangun dan menangis.

Hari ke-6
                Deburan ombak terdengar semakin jelas di telingaku. Biasanya aku menjadi damai ketika berada di pantai seperti ini. Tetapi, tidak kali ini. Mimpi semalam begitu nyata.
                Kuhembuskan napasku seiring angin menghempas tubuhku, menerbangkan rambut hitamku. Angin sepertinya ingin menyadarkanku, bahwa aku tak boleh bersedih hati. Aku ingat apa yang dikatakan angin waktu itu. “Tenanglah, hanya mimpi. Kamu mencintainya bukan? Jadi percayalah. Ia juga akan menjaga hatinya untukmu.”
                 Baiklah, aku akan mengangkat wajahku dan mengundang kembali senyum di bibirku. Aku tak boleh melewatkan waktu. Akan kurasakan bagaimana rasanya kasmaran denganmu.
                Kuceritakan semua pada ayah dan bundaku. Bagaimana aku bertemu denganmu, bagaimana senyumanmu memabukkanku, dan bagaimana pelukmu bisa terasa sangat hangat. Ketahuilah, ayah dan bunda juga ingin berjumpa dengan lelaki yang telah membuatku jatuh cinta.
                Hari ini aku menghubungimu. Aku tak pernah melewatkan untuk mengirim pesan kepadamu. Menanyakan keadaan dan keberadaanmu.
Tetapi, tak ada balasan darimu.
                “Ah, mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya.” Kutenangkan hatiku sendiri.

Hari ke-7
                Hari Minggu yang jahanam.        
Pagi ini aku menunggu kabar. Tak ada yang datang. Aku bertanya-tanya. Apakah kamu sudah kembali ke kota ini? Atau kamu masih bertahan di kota itu.
                Aku ingin memberi kejutan padamu hari ini sayang. Aku akan kembali dan bertemu denganmu. Kamu pasti rindu bukan? Samakah rindu kita? Tak sabar rasanya merasakan hangat tubuhmu begitu kita bertemu nanti.
                Tuhan tidak begitu baik saat itu.
                “Sayang, aku harus pulang ke Borneo. Sebentar lagi pesawat take off.” Isi pesan darimu sore ini.
                “Apa! Aku hampir sampai dan kamu malah mau pergi?” balasku setengah berteriak.
Pesanku tidak berlanjut. Mungkin pesawat sudah terbang.
                Tak henti-hentinya aku bertanya. Kenapa kamu dengan mudah pergi jauh tanpa sebelumnya memberitahukanku. Kenapa? Apakah kamu tidak merasakan rindu untukku? Oh, sayang kenapa sampai hati kamu pergi tanpa bertemu dahulu denganku.
                Malam ini aku menangis sampai tertidur.

Hari ke-8
                Tak sengaja aku membaca obrolanmu dengan seorang wanita di akun media sosial. Jantungku berdetak kencang, tubuhku lemas, aku sempoyongan. Ya Tuhan, apa lagi ini. Aku tak bisa berpikir benar saat ini. Otakku membeku. Aku melawan, kucoba artikan satu persatu kalimat percakapan kalian. Hingga aku terduduk lemas. Aku tahu, seharian ini kalian bersama. Tidur bersama.
                Sudah kutanyakan padamu, siapa wanita itu. Aku senang karena kamu mencoba membuat alasan tentang wanita itu. Meski sebenarnya aku tahu semuanya. Pertanyaan tentang siapa dia, sudah kutemukan jawabannya. Aku tak lagi bisa percaya ucapanmu. Kupilih untuk menutup sakit hatiku saat itu. Aku lebih memilih bahagia denganmu. Aku lebih memilih mengucapkan seribu rindu padamu dari pada berdebat soal wanita peliharaanmu yang lain.
                Bajingan! tiba-tiba di hadapanku muncul wanita itu bersamamu. Dia melumat bibirmu, dia merasakan hangatnya pelukmu, dia menyentuh tubuhmu. Cukup! Aku berteriak hingga merobek ilusi itu. Napasku terengah, syukurlah, nuraniku masih mampu mengajakku untuk tenang. Tak sedikit pun kusentuh wanitamu  itu.
                Hari yang sungguh buruk. Aku terlelap.

Hari ke-9
                Kamu malas-malasan mendengarkan ocehan dariku tentang rindu buatmu. Mungkin kamu terlalu lelah. Baiklah, aku mengerti.
Aku menangis dan terlelap.

Hari ke-10
                Kamu tak membalas pesan atau pun teleponku.
Aku rindu.

Hari ke-11
                Kamu menghilang.
Aku semakin rindu.

Hari ke-12
                “Sayang, aku rindu. Kamu balas pesanku bisa?” kukirim pesan padamu.
                “Ya, aku juga.” Balasmu. Hanya itu

Hari ke-13
                “Sayang, temani aku tidur malam ini.” Aku memohon padamu.
                “Aku belum tahu kapan kembali lagi.” Balasmu. Hanya itu.

Hari ke-14
                Rinduku tak tertahan. Bahkan kamu sendiri tak mampu mengobatinya. Aku kebingungan. Setengah gila.
                Malam ini sedih mengantarkan tubuhku untuk tidur. Di dalam mimpi kulihat kamu kembali ke kota ini. Aku tersenyum menyambutmu, tetapi kamu bersama seorang wanita. Wajahnya sama dengan yang kutemui di kereta dalam mimpi sebelumnya.
                Aku tidur sambil terisak penuh sesak.

Hari ke-15
                Kamu kembali ke kota ini. Sayangnya, bukan aku yang menyambut kedatanganmu. Lagi-lagi wanita yang wajahnya sama di mimpi-mimpiku kemarin. Tetapi, ini nyata bukan mimpi.
                Aku marah, aku cemburu dengan wanita itu. Kamu bahkan tak memberi tahu jika akan kembali hari ini. Benciku tiba-tiba hilang saat aku ingat jika aku bisa memelukmu lagi.
                Aku menunggu malam ini, tetapi kamu tidak datang.
Aku tetap bersabar.

Hari ke-16
                Pukul 2 dini hari.
                Kamu menemuiku dengan tubuh setengah sadar. Kamu mabuk lagi, tapi aku bahagia bisa bersamamu malam ini. Rinduku terlalu berat untuk kutanggung sendiri. Sempat aku mengajak berbicara menyoal wanitamu yang lain. Jawabanmu sungguh membuatku bahagia. Aku ingat, katamu kamu mencintaiku, katamu dia bukan siapa-siapa, dan katamu aku akan menjadi kekasihmu yang tercinta.
                Oh cinta, sungguh aku menyayangimu. Kita tertidur dalam pelukan.

Hari ke-17
                Aku tidak penah mengerti kenapa hari ini berlalu dengan begitu kejam. Malam ini tubuhmu seperti dirasuki setan. Tak tahu dari mana kamu dapatkan rasa benci. Padahal pagi hingga siang hari kita masih dihujani kemesraan seperti pengantin baru. Aku meringis dianggap sebagai wanita murahan. Kamu melontarkan puluhan kata-kata kasar. Kamu menuduh jika aku telah bermain dengan lelaki lain. Tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku sedih luar biasa.
                Malam ini dingin menusuk tulang-tulangku. Aku merangkak ke jalanan. Kulihat arlojiku. Hampir pukul 2 dini hari. Aku harus bertemu denganmu. Meluruskan hal yang konyol ini. Ketahuilah aku tak pernah mau berpisah denganmu.
                “Aku di jalan sayang. Sebentar lagi sampai.” Kukirimkan banyak pesan untuk menenangkanmu.
                Udara malam ini begitu hitam dan menyesakkan. Hampir tak bisa kupandang wajahmu yang tampan. Tubuhmu dipenuhi lumut-lumut abu-abu. Aku mencoba menggapaimu tanganmu, berusaha meraih tubuhmu. Tak berhasil.
                Setan kemudian masuk ke tubuhku, sepertinya ia tak mau jika kita berbicara secara wajar. Aku juga sama sekali tak mengerti kenapa tanganku bisa mendarat di wajahmu dengan keras. Maafkan aku, tapi sungguh aku tak bisa menghentikan marahku.  

Hari ke-18
                Aku tidak tidur. Mataku sembab, merah, tak ada air mata. Ingin sekali menangis, tapi tak bisa. Entahlah, aku masih bernapas, tapi tubuhku seperti mati.
                Aku tak percaya kamu memperlakukanku kejam seperti itu. Perihnya pipiku setelah tanganmu menghajarnya menambah pedih hatiku kala itu. Katamu itu balasan untukku. Baiklah, aku mengerti. Dan aku tak pernah menyalahkanmu.
                Angin subuh menjadi saksi, bagaimana waktu itu aku benar-benar ingin memelukmu dan mengatakan, “Sayang, ini kesalahan. Tak seharusnya kita bertengkar hebat seperti ini. Aku mencintaimu.”

Hari ke-19
                Katamu kita berpisah, tapi sungguh hatiku menolak. Aku kekasihmu dan tak mau pergi dari hatimu. Mungkin puluhan pesan dariku membuat ponselmu jengkel. Aku mengerti kamu tak mau melihat wajahku lagi. Tapi, aku rindu. Benar-benar rindu. Untuk itulah aku pergi menunggumu di rumah. Kamu tak pulang.
                Aku memohon pertemuan denganmu kepada Tuhan. Dan Dia mengabulkannya. Aku bahagia, bisa melihatmu tersenyum lagi. Aku bahagia bisa mencium bibirmu lagi.

Hari ke-20
                Aku tak pernah berharap ini menjadi hari terakhir untuk kita. Sejak semalam aku menunggu kedatanganmu. Ingin sekali malam ini kamu temani tidurku. Tahukah kamu, seisi kamar ini menertawakanku. Mereka mengejekku, mencemoohku, mereka bilang padaku jika kekasihku tak akan pernah datang.
                 “Untuk apa lelaki seperti dia ditunggu? Dia tak akan pernah datang. Dia tidak mencintaimu. Tidurlah dan berhenti menunggunya.” Itu kalimat yang keluar dari mulut mereka.
                Aku tak mempercayai ucapan mereka. Aku yakin sekali jika malam ini kamu akan datang.
                “Dia sudah janji akan datang. Jadi, diamlah kalian!” bentakku pada mereka.
                “Baiklah, namun jika kami benar bahwa dia tak akan datang. Pergilah untuk meninggalkannya.” balas mereka kemudian.
                Aku tak mampu melontarkan kalimat lagi. Aku hanya bisa terduduk lemas di pojok ruangan ini. Menatap arlojiku. Waktu berlenggang begitu saja. Sepi, tanpa ada udara yang bergerak sedikit pun. Tak hal yang memberikan tanda jika kamu akan datang.
                Menjelang pagi. Tubuhku semakin lemas. Kamu tidak pernah datang lagi.
...
                Kuketahui setelahnya, kamu telah beristri. Dan wanita yang aku cemburui selama ini, dia sama saja denganku.

...
                Aku tak pernah mengerti kenapa dua puluh hari ini terjadi. Aku tak pernah mengerti kenapa Tuhan mengizinkanku menemuimu. Aku tak pernah mengerti kenapa cinta datang bersamamu. Dan aku tak pernah mengerti kenapa cinta tak kau bawa pergi kembali.  

Aku mulai membenci hari
ketika tak kudapat kau berada di dekatku
Aku mulai membenci hari
ketika rindu semakin bertambah tebal di hatiku
Dan aku semakin membenci hari
ketika waktu membuatku semakin mencintaimu

Jogja, 9 Februari 2014