Kemarin baru saja aku lupa rasa
panas dari api
aku lupa rasa dingin dari es
lupa
rasa perih dari sayatan pisau...
Padahal sebelumnya aku ingat rasa
manis dari bibirmu
aku
ingat rasa lembut usapan tanganmu
ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu...
Ini masih di siang bolong dengan
setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. Aku pikir dengan jendela
terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Sampai akhirnya aku rasakan yang
masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik.
Lungkrah, kuhempaskan tubuhku pada kasur
yang sedari tadi menatapku. Aku muak, kenapa sejumput kapas yang disebut kasur
itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. Yah, aku yang salah. Kenapa
waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging
manusia yang busuk.
Sekali lagi kukatakan, “Tutup
mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!”
Kasur hanya diam, tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku.
Aku yang kemudian mendengar hujatan
kasur, “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut
gila. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka
lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!”
Aku menghela napas. Yah, memang
malam kemarin otakku sedang tidak waras. Tapi, siapa pula yang mau menolak
diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana
rasanya ketika dia mencium keningku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika
dia meremas kelenjar nikmatku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia
mulai melumat habis bibir tipisku, dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya
ketika dia mulai menembus batas fantasiku.
Tenanglah teman, tidak usah kamu
risaukan apa yang terjadi kemudian. Aku selalu saja lupa dengan itu, yang aku
ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil
memelukku erat tanpa ampun. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu
menakjubkan.
Memang belakangan ini, kasurku
sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. Mungkin dia masih suka
dengan bekas pacarku. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku.
Asalkan kamu mengerti, aku pun sama
denganmu kasur. Satu yang masih aku minta, ya tidur dengan Tian, bekas pacarku.
Kasur terdiam, kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar
membuyarkan otakku.
“Lalu kenapa, kenapa sekarang kamu
beralih, kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian, pacarmu
dulu!”
“Hahaha...,” aku tertawa.
Ah, omong kosong untuk kembali
memeluknya. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali
menikmatinya?
Aku hanya terdiam, tidak kulanjutkan
lagi obrolanku dengan kasur tengikku. Aku kembali ingat, baru seminggu ini aku
berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. Meski masih banyak retak di
sana-sini.
Asap rokok masih mengepul tebal,
menari-nari di sekeliling kepalaku. Aku terbatuk. Aku yang sedang kosong
setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. Padahal,
aku masih benar senang dengannya. Aku masih senang dicumbu, masih senang
dirayu, dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku.
Imajinasiku melayang, menciumi
lehernya, memeluk erat tubuhnya, tersenyum aku padanya, kemudian kabur...
Kuhisap lagi batang rokokku. Hampir
habis, ah masih perih rasanya. Sebenarnya, apa lagi yang kurang? Aku cantik,
menarik, dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Sexi?
Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya, itu aku.
Kuceritakan kembali padamu kasur, “Tian
itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. Kamu tentu tahu sendiri.
Bisa sampai lima, bahkan sepuluh, dibuatnya aku terbang ke surga. Tapi bukan
itu. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. Kamu tentu
tidak tahu, kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. Kamu
tidak pernah tahu, sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu.”
Diam. Aku mulai mengingat kembali
apa yang terjadi. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Hal yang
kulakukan bersamanya biasa, seperti pasangan pada umumnya. Makan malam bersama,
pergi nonton, bercanda, tertawa, dan tentu tidur.
Bagaimana bisa lelaki seperti itu
mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya, menghujaninya
dengan segala hadiah-hadiah kecil. Aku benar-benar jatuh hati padanya.
Sejak itu aku yang putuskan sendiri,
ingin tetap bersamanya. Aku yang putuskan, setiap malam harus tidur dengannya.
Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya, bak pelacur yang selalu
mencumbu pelanggannya. Bedanya, aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya.
Tentu, itu kukatakan padanya. Aku
hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Aku ingat, dia
mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Sejak saat itulah, dia semakin sering
membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. Di atas kasur ini.
Sampai akhirnya, aku menemukan dia.
Menumpuk lekat di atas dada wanita. Dengan kemaluannya yang tegak di antara
selangkangan mulus punya wanita itu. Aku hanya bisa diam saat itu.
Diam bukan berarti tidak bergerak.
Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. Apa ini sampah? Busuk? Bacin!
Tanpa menangis aku melangkah pergi
begitu saja. Entah, dia mengejarku atau tidak, yang aku tahu, langit roboh saat
itu juga.
Malamnya, aku habiskan sebungkus
rokok dalam waktu 4 jam saja. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu.
Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. Kenapa aku bisa melihat?
Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Agar aku tidak
melihat kekasihku mengawini wanita lain.
Kubuka dengan paksa kamar Endo.
Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Lelaki
yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Sama, yang kulihat
dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati.
“Pergi kau PSK gila! Biar aku yang
gantikan!” teriakku.
Aku ingat, waktu itu wajah Endo
sedikit terkejut, tapi dia diam dan setelahnya, kami berdua sudah bergumul
dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya
Endo kepadaku.
Aku yang tidak sadar bahwa pipiku
sudah mulai basah, “Tian busuk!”
Endo tidak pernah melanjutkan
pertanyaan lagi. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya.
“Dan sekarang apa yang dipikirkan
olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian, meskipun tahu bahwa Tian
telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. Tentu aku tidak akan pernah
mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. Tidak akan kubiarkan hatiku
meringis lagi seperti dulu.” Ucapku tegas.
Kasur semakin terdiam. Dia tahu
benar apa yang sedang berkecambuk di dalam hatiku. Dia tahu dengan jelas
semuanya. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas
kasur ini. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi
memuaskan Tian di atas kasur ini, juga tentang mama dan papaku yang telah aku
bohongi demi mencukupi Tian.
Dia tahu persis bahwa sekarang aku
tidak melakukannya dengan benar. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas.
Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku, bermain hingga klimaks, kemudian
hilang begitu saja.
Aku yang sekarang, menjadi wanita
pemuas hasrat lelaki. Aku yang sekarang, setiap hari berlutut melumat kemaluan
lelaki. Tanpa rasa yang awet.
Baris Busuk
kepada: Tian
Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara
Nyata rasanya,mencekik urat leher
Sama rasanya, buat muntah, muntah tak bersisa
Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih
Beradu, nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa
Hamba yang kemudian berlari, bersembunyi,
Mungkin di bawah kolong kehidupan
atau di bawah tumpukan dosa
Berpaling, itu yang jelas hamba lakukan
Yogya, 19 Juni’12