secuil coretan

Minggu, 04 November 2012

Ilusi yang kemudian Buyar


            Uh, kamarku terlihat seperti cakaran binatang dan entahlah, lama-lama menjadi busuk juga! Jelas menjadi seperti ini, ketika tak satupun di kamar ini yang mau mengajakku berbicara lagi. Padahal sebelumnya, masing-masing bagian kamar ini berebut ngajak ngobrol denganku, mungkin mereka lelah, atau aku yang memang terlalu kuat mengisap batang rokok sialan ini hingga aku tak menghiraukan obrolan mereka. Iya benar, tadi juga aku merasa lelah sekali. Aku lelah menikmati cumbuanmu sayang. Sepenggal cumbuan yang terasa pahit, amat pahit.
            Oh, aku lupa. Satu jam lalu kamu baru pergi ya? kamu, iya benar kamu. Kamu lelakiku yang begitu kusayang. Kamu pergi? Uh, apa itu semacam lelucon. Aku diam, bola mataku kemudian tertuju pada jam dinding yang sedari tadi masih setia mengalunkan suara detikannya dengan lembut. Ini sudah hampir tengah malam, tapi jari-jariku masih belum puas juga mengapit berbatang-batang tembakau wangi.
            Aku kembali teringat, ketika kamu berkata, “Setelah ini aku pulang.” Ah, itu ucapan terakhir yang kudengar keluar dari mulutmu dan bagaimana bisa itu muncul di tengah-tengah permainan kita yang belum usai? Apa yang ada di otakmu sebenarnya. Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.
            “Setelah ini aku tak akan mengurusmu ataupun gadis itu lagi.” Yah, aku ingat lagi. Kamu mengucapkan kalimat itu sebelumnya. Apa kamu tahu yang terjadi sesudahnya? Kamu pasti melihat bagaimana setan menari-nari di sekitarku. Mendorongku untuk segera menghantammu dengan kepalan rasa benci yang begitu keras di tanganku, tapi apa yang terjadi? Hatiku yang bodoh malah melonglong terus-terusan untuk acuhkan omongan busukmu itu. Jiwaku yang dengan sekuat-kuatnya menahan tubuhku untuk diam, hanya diam.
            Lalu, apa benar tidak sedikit pun kamu menyadari bahwa warna kulitku sudah semerah darah manusia saat itu? Saat suhu tubuhku memuncak hingga kulitku yang begitu putih berubah menjadi merah menahan marah, itu adalah teriakkanku bodoh! Mereka berteriak seakan ingin mencabik-cabik mulut sialanmu itu. Apa yang kamu ingat kini? Ini mereka, mereka yang setiap malam kamu belai, mereka yang selalu kamu siram dengan hembusan napasmu yang hangat. Ingatkah!
            Hahaha, jelas kamu tidak ingat lagi. Bagaimana tidak, kamu lebih memilih pergi dengan gadis yang sekarang kutahu telah menjadi kekasih barumu itu. Ah, aku juga tahu jika sekarang kalian menjadi bangsa binatang. Apa itu sejenis itik? Atau yang lainnya! Aku di sini melihat betapa angkuh kalian melenggang santai di depanku. Itu sama saja seperti angsa yang begitu tinggi mengangkat lehernya ketika berjalan. Aduh, aku lupa itu nama binatang untuk panggilan “sayang” kalian ya?
            Ini baru dua jam setelah kamu pergi. Kini kamarku yang telah membusuk pun ikut menanyakan kedatanganmu kembali. Sungguh luar biasa, kamarku ini sepertinya juga sudah jatuh hati kepadamu lelakiku. Aku diam, tak kujawab pertanyaan mereka. Tiga jam setelah kepergianmu, kulitku yang kemudian menjadi rewel. Mereka mencemaskanku untuk kehangatan yang mungkin tak lagi bisa kudapat darimu. Aku hanya diam, mungkin lebih tepatnya berpura-pura diam.
            Benar, mataku memang kering tanpa ada setetes pun air mata yang turun. Aku tahu mereka begitu karena sudah tidak mau lagi menemani hati yang terpotong-potong ini. Menjijikan memang, jika mereka repot-repot menangisi kamu.
            Hariku selanjutnya biasa saja. Bibirku tetap tersenyum dengan cantiknya, pita suaraku pun tetap terjaga, dan tertawaku masih lantang. Seperti itulah hiasan setiap detik di hidupku. Hingga malam ini datang, rindu terdahsyat mengetuk jendela kamarku. Ketika aku bersikeras untuk tidak menghiraukannya, mereka justru terlihat masuk melenggang menembus daun jendela. Aduh, yang benar saja! Harusnya aku melapisi daun jendela sialan itu dengan baja, agar mereka tidak bisa menembusnya. 
            Lupakan soal jendela, kini yang menjadi masalahku adalah rindu itu dengan seenak jidatnya sendiri meresap ke rongga jantungku. Mereka kemudian menyatu dengan hatiku dan akibatnya aku sendiri yang rasanya tercekik mau mati. Sepertinya apapun yang telah kulakukan untuk menolak rindu ini telah gagal dengan sempurna.
            Terus saja mereka dengan bringas mengacau di otakku. Memberikan ilusi tentangmu. Aku melihatnya, melihat tanganmu yang membelai mesra pipiku, melihat bibirmu yang kemudian begitu manis beradu dengan bibirku. Melihat tubuhmu yang merengkuh jiwaku dan banyak sekali mereka menggambar di hadapanku. Kutarik selimut yang ada di sampingku untuk menutup kepalaku rapat-rapat. Aku berharap menutup kepala dengan selimut mampu menghadang semua gambaran tentangmu agar tidak terlihat, atau kalau bisa ilusi tentangmu lenyap dari hadapanku.
            Sial! Sungguh sial! Gambaran mereka tentangmu justru semakin jelas saja. Betapa berengseknya mereka menggambarkan kamu, aku, dan permainan kita yang penuh gairah dan gurih rasanya. Aku mulai mual melihatnya lagi. Kepalaku kini seperti mau menyala saja, hmm..sebentar lagi pecah berantakan mungkin.
            Saat tidak bisa dibendung ya sudah, aku ikuti saja keinginan mereka. Yah, rinduku itu ingin melihat wajahmu wahai lelakiku. Kuladeni mereka dengan senyum ketir. Ada handphone di dekatku, tanpa basa-basi kutekan tombol-tombol hitam yang bertuliskan abjad yang ada. Ketika jadi sebentuk namamu kuarahkan segera tuk mencari apa yang ada di akun sosialmu. Mungkin dengan melihat fotomu, mungkin tulisanmu, atau mungkin obrolanmu dengan teman-temanmu bisa membuat mereka puas saat itu.
            Apa yang terjadi, ketika ternyata yang terpampang di depan mataku adalah isi kemesraanmu dengan kekasihmu yang baru. Hahaha...mampuslah mereka! Matilah segala pasukan rinduku. Buyarlah yang ada di otakku saat itu. 
            Bagaimana mungkin, kau mengingkari omonganmu dahulu itu dan jika itu sebuah sumpah serapah, maka alam akan mendengarnya dengan jelas. Ketika alam menyimak perkataanmu dahulu yang dengan begitu liar berhasil membinasakan perasaanku, sekarang kau ingkari dengan gampangnya. Apakah itu semacam mengunyah muntahan sendiri dari mulutmu. Sungguh menjijikan!
            Itu kamu lelakiku yang begitu aku cintai. Mungkin saat ini kamu sedang memadu kasih dengan  gadis sialan itu. Aku diam di sini sekarang, diam dengan satu juta penyesalanku. Aku yang diam dan kasihan kepadamu. Ah, bukan! Aku kasihan dengan tubuhmu itu. Aku kasihan jika tubuhmu harus kedinginan di setiap malam, karena kutahu tubuh gadis itu takkan bisa sehangat pelukanku.
            Tahukah kamu, ketika aku bercerita pada langit-langit di kamar ini tentang kamu, tentang kisah kita. Mereka dengan geram menjawab, “Tenanglah wanitaku, dunia tak akan lagi menolong lelakimu itu yang telah sengaja menelantarkan perasaanmu itu. Sungguh alam pun akan segera membalasnya. Apa perlu aku meminta alam untuk segera menenggelamkannnya di lautan sana? Atau kau ingin aku meminta alam tuk menjatuhkannya dari atas jembatan?”
            Tentu saja tidak. Aku tak pernah menginginkan begitu. Kulit di tubuhnya tergores sedikit pun tak ingin aku melihatnya. Aku ini hanya ingin melihatnya berbahagia. Yah, walaupun bahagianya bukan denganku, tak apalah. Penting bagiku tuk selalu tahu harinya selalu berhias senyum.
            Ah! Apa yang telah kupikirkan. Sungguh munafik otakku ini. Tidak mungkin! Rupaku yang sebenarnya jelas menginginkan kamu tuk cepat mati. Kau tahu dengan jelas hatiku ini sudah penuh dengan cacing-cacing gendut yang begitu lahap mencabik-cabik bagiannya.
            Oh, sungguh tak bisa. Aku begitu merindukanmu. Meski sekarang kamu telah berada di atas gadis lain, pintaku, aku ingin tidur denganmu malam ini. Aku ingin memeluk tubuhmu hingga esok pagi datang. 
            Tengah malam ini, mataku masih terbuka, kosong, bibirku masih mengisap sebatang rokok, dan kamarku kini gelap oleh asapnya.

“Kau memang setan alas nggak punya perasaan..”
-Iwan Fals-

Oktober 2012
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar