Uh, kamarku terlihat seperti cakaran
binatang dan entahlah, lama-lama menjadi busuk juga! Jelas menjadi seperti ini,
ketika tak satupun di kamar ini yang mau mengajakku berbicara lagi. Padahal
sebelumnya, masing-masing bagian kamar ini berebut ngajak ngobrol denganku,
mungkin mereka lelah, atau aku yang memang terlalu kuat mengisap batang rokok
sialan ini hingga aku tak menghiraukan obrolan mereka. Iya benar, tadi juga aku
merasa lelah sekali. Aku lelah menikmati cumbuanmu sayang. Sepenggal cumbuan
yang terasa pahit, amat pahit.
Oh, aku lupa. Satu jam lalu kamu
baru pergi ya? kamu, iya benar kamu. Kamu lelakiku yang begitu kusayang. Kamu
pergi? Uh, apa itu semacam lelucon. Aku diam, bola mataku kemudian tertuju pada
jam dinding yang sedari tadi masih setia mengalunkan suara detikannya dengan
lembut. Ini sudah hampir tengah malam, tapi jari-jariku masih belum puas juga
mengapit berbatang-batang tembakau wangi.
Aku kembali teringat, ketika kamu
berkata, “Setelah ini aku pulang.” Ah, itu ucapan terakhir yang kudengar keluar
dari mulutmu dan bagaimana bisa itu muncul di tengah-tengah permainan kita yang
belum usai? Apa yang ada di otakmu sebenarnya. Aku tidak mengerti, sama sekali
tidak mengerti.
“Setelah ini aku tak akan mengurusmu
ataupun gadis itu lagi.” Yah, aku ingat lagi. Kamu mengucapkan kalimat itu
sebelumnya. Apa kamu tahu yang terjadi sesudahnya? Kamu pasti melihat bagaimana
setan menari-nari di sekitarku. Mendorongku untuk segera menghantammu dengan
kepalan rasa benci yang begitu keras di tanganku, tapi apa yang terjadi? Hatiku
yang bodoh malah melonglong terus-terusan untuk acuhkan omongan busukmu itu. Jiwaku
yang dengan sekuat-kuatnya menahan tubuhku untuk diam, hanya diam.
Lalu, apa benar tidak sedikit pun
kamu menyadari bahwa warna kulitku sudah semerah darah manusia saat itu? Saat
suhu tubuhku memuncak hingga kulitku yang begitu putih berubah menjadi merah
menahan marah, itu adalah teriakkanku bodoh! Mereka berteriak seakan ingin
mencabik-cabik mulut sialanmu itu. Apa yang kamu ingat kini? Ini mereka, mereka
yang setiap malam kamu belai, mereka yang selalu kamu siram dengan hembusan
napasmu yang hangat. Ingatkah!
Hahaha, jelas kamu tidak ingat lagi.
Bagaimana tidak, kamu lebih memilih pergi dengan gadis yang sekarang kutahu
telah menjadi kekasih barumu itu. Ah, aku juga tahu jika sekarang kalian menjadi
bangsa binatang. Apa itu sejenis itik? Atau yang lainnya! Aku di sini melihat
betapa angkuh kalian melenggang santai di depanku. Itu sama saja seperti angsa
yang begitu tinggi mengangkat lehernya ketika berjalan. Aduh, aku lupa itu nama
binatang untuk panggilan “sayang” kalian ya?
Ini baru dua jam setelah kamu pergi.
Kini kamarku yang telah membusuk pun ikut menanyakan kedatanganmu kembali.
Sungguh luar biasa, kamarku ini sepertinya juga sudah jatuh hati kepadamu
lelakiku. Aku diam, tak kujawab pertanyaan mereka. Tiga jam setelah
kepergianmu, kulitku yang kemudian menjadi rewel. Mereka mencemaskanku untuk
kehangatan yang mungkin tak lagi bisa kudapat darimu. Aku hanya diam, mungkin
lebih tepatnya berpura-pura diam.
Benar, mataku memang kering tanpa
ada setetes pun air mata yang turun. Aku tahu mereka begitu karena sudah tidak
mau lagi menemani hati yang terpotong-potong ini. Menjijikan memang, jika
mereka repot-repot menangisi kamu.
Hariku selanjutnya biasa saja.
Bibirku tetap tersenyum dengan cantiknya, pita suaraku pun tetap terjaga, dan
tertawaku masih lantang. Seperti itulah hiasan setiap detik di hidupku. Hingga
malam ini datang, rindu terdahsyat mengetuk jendela kamarku. Ketika aku
bersikeras untuk tidak menghiraukannya, mereka justru terlihat masuk melenggang
menembus daun jendela. Aduh, yang benar saja! Harusnya aku melapisi daun
jendela sialan itu dengan baja, agar mereka tidak bisa menembusnya.
Lupakan soal jendela, kini yang
menjadi masalahku adalah rindu itu dengan seenak jidatnya sendiri meresap ke
rongga jantungku. Mereka kemudian menyatu dengan hatiku dan akibatnya aku
sendiri yang rasanya tercekik mau mati. Sepertinya apapun yang telah kulakukan
untuk menolak rindu ini telah gagal dengan sempurna.
Terus saja mereka dengan bringas
mengacau di otakku. Memberikan ilusi tentangmu. Aku melihatnya, melihat
tanganmu yang membelai mesra pipiku, melihat bibirmu yang kemudian begitu manis
beradu dengan bibirku. Melihat tubuhmu yang merengkuh jiwaku dan banyak sekali
mereka menggambar di hadapanku. Kutarik selimut yang ada di sampingku untuk
menutup kepalaku rapat-rapat. Aku berharap menutup kepala dengan selimut mampu
menghadang semua gambaran tentangmu agar tidak terlihat, atau kalau bisa ilusi
tentangmu lenyap dari hadapanku.
Sial! Sungguh sial! Gambaran mereka
tentangmu justru semakin jelas saja. Betapa berengseknya mereka menggambarkan
kamu, aku, dan permainan kita yang penuh gairah dan gurih rasanya. Aku mulai
mual melihatnya lagi. Kepalaku kini seperti mau menyala saja, hmm..sebentar
lagi pecah berantakan mungkin.
Saat tidak bisa dibendung ya sudah,
aku ikuti saja keinginan mereka. Yah, rinduku itu ingin melihat wajahmu wahai
lelakiku. Kuladeni mereka dengan senyum ketir. Ada handphone di dekatku,
tanpa basa-basi kutekan tombol-tombol hitam yang bertuliskan abjad yang ada.
Ketika jadi sebentuk namamu kuarahkan segera tuk mencari apa yang ada di akun
sosialmu. Mungkin dengan melihat fotomu, mungkin tulisanmu, atau mungkin
obrolanmu dengan teman-temanmu bisa membuat mereka puas saat itu.
Apa yang terjadi, ketika ternyata
yang terpampang di depan mataku adalah isi kemesraanmu dengan kekasihmu yang
baru. Hahaha...mampuslah mereka! Matilah segala pasukan rinduku. Buyarlah yang
ada di otakku saat itu.
Bagaimana mungkin, kau mengingkari
omonganmu dahulu itu dan jika itu sebuah sumpah serapah, maka alam akan
mendengarnya dengan jelas. Ketika alam menyimak perkataanmu dahulu yang dengan
begitu liar berhasil membinasakan perasaanku, sekarang kau ingkari dengan
gampangnya. Apakah itu semacam mengunyah muntahan sendiri dari mulutmu. Sungguh
menjijikan!
Itu kamu lelakiku yang begitu aku
cintai. Mungkin saat ini kamu sedang memadu kasih dengan gadis sialan itu. Aku diam di sini sekarang,
diam dengan satu juta penyesalanku. Aku yang diam dan kasihan kepadamu. Ah,
bukan! Aku kasihan dengan tubuhmu itu. Aku kasihan jika tubuhmu harus
kedinginan di setiap malam, karena kutahu tubuh gadis itu takkan bisa sehangat
pelukanku.
Tahukah kamu, ketika aku bercerita
pada langit-langit di kamar ini tentang kamu, tentang kisah kita. Mereka dengan
geram menjawab, “Tenanglah wanitaku, dunia tak akan lagi menolong lelakimu itu
yang telah sengaja menelantarkan perasaanmu itu. Sungguh alam pun akan segera
membalasnya. Apa perlu aku meminta alam untuk segera menenggelamkannnya di
lautan sana? Atau kau ingin aku meminta alam tuk menjatuhkannya dari atas
jembatan?”
Tentu saja tidak. Aku tak pernah
menginginkan begitu. Kulit di tubuhnya tergores sedikit pun tak ingin aku
melihatnya. Aku ini hanya ingin melihatnya berbahagia. Yah, walaupun bahagianya
bukan denganku, tak apalah. Penting bagiku tuk selalu tahu harinya selalu
berhias senyum.
Ah! Apa yang telah kupikirkan. Sungguh munafik otakku ini. Tidak mungkin! Rupaku yang sebenarnya jelas menginginkan kamu tuk cepat mati. Kau tahu dengan jelas hatiku ini sudah penuh dengan cacing-cacing gendut yang begitu lahap mencabik-cabik bagiannya.
Ah! Apa yang telah kupikirkan. Sungguh munafik otakku ini. Tidak mungkin! Rupaku yang sebenarnya jelas menginginkan kamu tuk cepat mati. Kau tahu dengan jelas hatiku ini sudah penuh dengan cacing-cacing gendut yang begitu lahap mencabik-cabik bagiannya.
Oh, sungguh tak bisa. Aku begitu
merindukanmu. Meski sekarang kamu telah berada di atas gadis lain, pintaku, aku
ingin tidur denganmu malam ini. Aku ingin memeluk tubuhmu hingga esok pagi
datang.
Tengah malam ini, mataku masih
terbuka, kosong, bibirku masih mengisap sebatang rokok, dan kamarku kini gelap
oleh asapnya.
“Kau
memang setan alas nggak punya perasaan..”
-Iwan
Fals-
Oktober 2012
Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar