secuil coretan

Kamis, 23 Mei 2013

Hai, Apa Kabar Kamu?

Hai, malam ini cerah ya? Awan terlihat bergumpal-gumpal putih bersih di langit. Lihat juga mereka! Ya! Bintang-bintang banyak sekali. Benarkan? betapa sempurnanya.

Hai, apa kabar kamu? Ingin sekali aku mendengar sendiri jika kamu baik-baik saja.

Aku ingat, ketika aku dan kamu menyusuri beberapa jalan di kota Jogja. Yah, kita. Aku sampai hapal dengan suara mesin motor bebekmu itu. Sekedar mencari kesejukan malam.

Aku ingat, saat kita masih saling tersenyum ketika bertemu mata, apalagi jika tanganmu mulai mengelus kepalaku. Ah, aku ingat dengan jelas.

Aku ingat, waktu kita saling beradu lapar dan berujung makan bersama di pinggir jalan Solo. Yah, aku tau kalau penjual ikan itu tak akan memberi kita potongan harga, walau sudah menawar sampai meringis. Ikan laut yang malang, sudah kita habisi dan lezat sekali.

Aku ingat, sering sekali kita kosong dan hanya mampir duduk di pinggir jalan. Melihat puluhan mobil lewat, melihat bapak-bapak penjual lampu led, terkena debu jalan. Ah, pohon itu. Pohon di pinggir jalan dan bangku bambu di bawahnya. Mereka pasti merindukan kita.

Aku ingat, tiba-tiba kamu muncul di hadapanku tanpa memberi kabar dahulu. Lalu, yah, kamu pergi begitu saja setelah melihatku. Katamu hanya kangen. Itu lucu.

Aku ingat, penjual bunga itu. Ah, romantisnya, indah benar bunga mawar itu. Benar indahkan?

Aku ingat, aku ingat semuanya. Jelas sekali, tak ada yang terlewat secuil pun.

Lukaku? Ah, aku tiba-tiba lupa itu.

Aku lupa ada wanita datang mendekatimu.

Aku lupa ada wanita yang meminta ruang di hatimu.

Aku lupa rupa wanita yang tersenyum sumringah bersamamu di foto itu.

Aku lupa jika kamu dan wanita itu juga pergi bersama menikmati malam di kota Jogja ini.

Aku lupa jika kalian bahagia bersama.

Aku lupa, kamu bersamanya sekarang.

Aku  lupa jika aku tak bersamamu lagi.

Aku hanya lupa.

Atau aku justru ingat?

Ah, apa kabarmu sekarang?

Minggu, 10 Februari 2013

Kepada Sepi


Saat kesepian mulai nyata menyusup di sekitar kepalaku, kenapa justru semakin jelas saja suara berisik. Yah, aku mengakuinya, batinku yang tak henti-hentinya mengumbar obrolan. Ini sama seperti sekelompok ibu-ibu tua dengan gelang emas berderet di tangan yang saling melempar basa-basi basi selama acara arisan berlangsung.

Wajar jika aku benci dengan sepi. Sepi membuat semua kenangan semakin jelas, semakin nyata berjalan berderet di hadapanku. Terkadang aku mencoba untuk menyibak bagian dari banyak baris kenangan yang berjalan pelan di depanku, tapi tak pernah berhasil. Kasihan, sungguh kasian.

Bagaimana dengan gelap? Sama saja! Ia sama kurangajarnya. Gelap menambah gambaran kenangan semakin dan semakin nyata. Untuk itulah aku memasang lampu yang terang di kamarku ini. Yah, harapanku semoga gambaran kenangan itu bisa sedikit kabur sebab kalah oleh cahaya lampu. Kalau lampu ini bisa di pasang di dalam otakku, mungkin aku akan memasang puluhan lampu, menyilaukan kenangan sampai tak bisa terlihat lagi.
Lucunya, sehebat apapun aku mengusir sepi, sehebat itu pula sepi melabuh di otakku.

Bencilah kepada sepi jika ia
tak hentinya mencemooh
menambah berisik ilusi terhadap
kenangan
Bencilah kepada sepi jika ia
justru menyuarakan yang ingin
ditinggalkan oleh hati
Bencilah kepada sepi jika ia
hanya bisa membuat hati
semakin tergerus rindu


Itu sajakku, sajakku buat kamu, sepi.

8 Februari 2013