secuil coretan

Selasa, 19 Juni 2012

Kasur



Kemarin baru saja aku lupa rasa panas dari api
                              aku lupa rasa dingin dari es
                                           lupa rasa perih dari sayatan pisau...
Padahal sebelumnya aku ingat rasa manis dari bibirmu
                                       aku ingat rasa lembut usapan tanganmu
                                               ingat rasa gurihnya tetesan sejuta bibitmu...

            Ini masih di siang bolong dengan setumpuk rasa panas yang memerangi kulit mulusku. Aku pikir dengan jendela terbuka angin segar bisa meredam kegerahanku. Sampai akhirnya aku rasakan yang masuk kamarku hanyalah angin panas glontoran matahari tengik.
            Lungkrah, kuhempaskan tubuhku pada kasur yang sedari tadi menatapku. Aku muak, kenapa sejumput kapas yang disebut kasur itu terus saja mengejekku setelah kejadian itu. Yah, aku yang salah. Kenapa waktu itu kubiarkan mata kasur melihatku telanjang dengan seonggok daging manusia yang busuk.      
            Sekali lagi kukatakan, “Tutup mulutmu! Atau aku tak akan menidurimu lagi seperti malam-malam sebelum ini!” Kasur hanya diam, tapi aku selalu melihatnya tersenyum licik di belakangku.
            Aku yang kemudian mendengar hujatan kasur, “Kamu yang seharusnya tutup mulut! Apa tidak sadar sudah menjadi badut gila. Seenaknya saja kamu bergulat di atas kelembutan kainku! Aku tak suka lelaki yang kamu pacari malam-malam sebelum ini!”
            Aku menghela napas. Yah, memang malam kemarin otakku sedang tidak waras. Tapi, siapa pula yang mau menolak diberi kenikmatan sebanding surga? Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ketika dia mencium keningku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia meremas kelenjar nikmatku, kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai melumat habis bibir tipisku, dan kamu tidak akan pernah tahu rasanya ketika dia mulai menembus batas fantasiku.
            Tenanglah teman, tidak usah kamu risaukan apa yang terjadi kemudian. Aku selalu saja lupa dengan itu, yang aku ingat hanya desah napas terakhir ketika dia mulai terbang ke surga sambil memelukku erat tanpa ampun. Itupun menjadi napas yang menurutku begitu menakjubkan.
            Memang belakangan ini, kasurku sedikit berisik dengan beberapa teman lelakiku sekarang. Mungkin dia masih suka dengan bekas pacarku. Mungkin dia masih ingin ditiduri oleh bekas pacarku.
            Asalkan kamu mengerti, aku pun sama denganmu kasur. Satu yang masih aku minta, ya tidur dengan Tian, bekas pacarku. Kasur terdiam, kemudian kembali meluncurkan pertanyaan yang bagiku benar-benar membuyarkan otakku.
            “Lalu kenapa, kenapa sekarang kamu beralih, kenapa sekarang kamu mengangkang untuk orang lain? Bukan Tian, pacarmu dulu!”
            “Hahaha...,” aku tertawa.
            Ah, omong kosong untuk kembali memeluknya. Apa aku harus tidur bersama dia lagi? Apa aku harus kembali menikmatinya?
            Aku hanya terdiam, tidak kulanjutkan lagi obrolanku dengan kasur tengikku. Aku kembali ingat, baru seminggu ini aku berhasil menyusun kembali hatiku untuk lelaki. Meski masih banyak retak di sana-sini.
            Asap rokok masih mengepul tebal, menari-nari di sekeliling kepalaku. Aku terbatuk. Aku yang sedang kosong setelah tahu bahwa kekasih yang selama ini aku yakini ternyata busuk. Padahal, aku masih benar senang dengannya. Aku masih senang dicumbu, masih senang dirayu, dan masih senang bergulat dengan dia atas kasurku.
            Imajinasiku melayang, menciumi lehernya, memeluk erat tubuhnya, tersenyum aku padanya, kemudian kabur...
            Kuhisap lagi batang rokokku. Hampir habis, ah masih perih rasanya. Sebenarnya, apa lagi yang kurang? Aku cantik, menarik, dan tidak sedikit dari temanku yang bilang aku baik. Sexi? Menggairahkan? Buat ngaceng? Ya, itu aku.
            Kuceritakan kembali padamu kasur, “Tian itu lelaki paling jantan yang pernah tidur denganku. Kamu tentu tahu sendiri. Bisa sampai lima, bahkan sepuluh, dibuatnya aku terbang ke surga. Tapi bukan itu. Bukan itu yang membuatku jatuh hati tiga perempat mati padanya. Kamu tentu tidak tahu, kenyamanan apa yang dilakukannya di luar kamar ini bersamaku. Kamu tidak pernah tahu, sebaik apa dia sewaktu tidak di hadapanmu.”
            Diam. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi. Setengah tahun sudah aku menjadi kekasihnya. Hal yang kulakukan bersamanya biasa, seperti pasangan pada umumnya. Makan malam bersama, pergi nonton, bercanda, tertawa, dan tentu tidur.
            Bagaimana bisa lelaki seperti itu mengantarkanku pada kedamaian dunia? Aku terus saja memujanya, menghujaninya dengan segala hadiah-hadiah kecil. Aku benar-benar jatuh hati padanya.
            Sejak itu aku yang putuskan sendiri, ingin tetap bersamanya. Aku yang putuskan, setiap malam harus tidur dengannya. Aku yang putuskan dengan segenap hati melayaninya, bak pelacur yang selalu mencumbu pelanggannya. Bedanya, aku sama sekali tidak memungut bayaran darinya.
            Tentu, itu kukatakan padanya. Aku hanya minta dia lebih menjagaku dan jangan pergi jauh-jauh. Aku ingat, dia mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Sejak saat itulah, dia semakin sering membuaiku dalam khayalan tinggal di surga. Di atas kasur ini.
            Sampai akhirnya, aku menemukan dia. Menumpuk lekat di atas dada wanita. Dengan kemaluannya yang tegak di antara selangkangan mulus punya wanita itu. Aku hanya bisa diam saat itu.
            Diam bukan berarti tidak bergerak. Batinku begitu meronta dengan dahsyatnya. Apa ini sampah? Busuk? Bacin!
            Tanpa menangis aku melangkah pergi begitu saja. Entah, dia mengejarku atau tidak, yang aku tahu, langit roboh saat itu juga.
            Malamnya, aku habiskan sebungkus rokok dalam waktu 4 jam saja. Rasanya gatal sekali melihat kejadian siang itu. Aku gemetaran dan tiba-tiba benci kepada mataku. Kenapa aku bisa melihat? Kenapa aku tidak buta? Aku berharap mataku buta saat itu. Agar aku tidak melihat kekasihku mengawini wanita lain.
            Kubuka dengan paksa kamar Endo. Lelaki yang selama ini kutahu memujaku dari awal aku bertemu dengannya. Lelaki yang tetap menungguku meski aku menjadi milik orang lain. Sama, yang kulihat dia sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang PSK kelas melati.
            “Pergi kau PSK gila! Biar aku yang gantikan!” teriakku.
            Aku ingat, waktu itu wajah Endo sedikit terkejut, tapi dia diam dan setelahnya, kami berdua sudah bergumul dengan hebat tanpa sehelai kain pun melekat di tubuh.
            “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Endo kepadaku.
            Aku yang tidak sadar bahwa pipiku sudah mulai basah, “Tian busuk!”
            Endo tidak pernah melanjutkan pertanyaan lagi. Aku hanya hanyut dengan tangis yang menyiksa dipelukannya.
            “Dan sekarang apa yang dipikirkan olehmu kasur?! Kamu rindu dengan wangi tubuh Tian, meskipun tahu bahwa Tian telah kawin dengan wanita lain yang begitu busuk. Tentu aku tidak akan pernah mengizinkan tubuhku bersegama lagi dengannya. Tidak akan kubiarkan hatiku meringis lagi seperti dulu.” Ucapku tegas.
            Kasur semakin terdiam. Dia tahu benar apa yang sedang berkecambuk di dalam hatiku. Dia tahu dengan jelas semuanya. Tentang hari-hari yang telah banyak aku habiskan bersama Tian di atas kasur ini. Tentang tugas akhirku yang jatah waktunya telah kuabaikan hanya demi memuaskan Tian di atas kasur ini, juga tentang mama dan papaku yang telah aku bohongi demi mencukupi Tian.
            Dia tahu persis bahwa sekarang aku tidak melakukannya dengan benar. Aku tidak mencumbu banyak lelaki dengan puas. Aku hanya jadikan mereka makanan kecilku, bermain hingga klimaks, kemudian hilang begitu saja.
            Aku yang sekarang, menjadi wanita pemuas hasrat lelaki. Aku yang sekarang, setiap hari berlutut melumat kemaluan lelaki. Tanpa rasa yang awet.

Baris Busuk
kepada: Tian

Siang ini hamba hirup kembali didihnya udara
Nyata rasanya,mencekik urat leher
Sama rasanya, buat muntah, muntah tak bersisa
Mataku yang sedari tadi memekik nahan perih
Beradu, nahan panasnya hidup dengan sisa-sisa
Hamba yang kemudian berlari, bersembunyi,
Mungkin di bawah kolong kehidupan
atau di bawah tumpukan dosa
Berpaling, itu yang jelas hamba lakukan
           
            Yogya, 19 Juni’12
           

2 komentar: